Jumat, 16 Mei 2014

Pemasangan Lantai

Pemasangan Lantai

 
Pemasangan lantai biasanya dimulai bila semua pekerjaan bagian atas, seperti pemasangan atap, plafon, dan plesteran dinding dan pekerjaan bagian bawah, seperti pemasangan pipa-pipa riolering telah selesai dilaksanakan.
 
Permukaan dasar tanah yang akan dipasang lantai harus diberi urugan terlebih dahulu. Tujuan dari pengurugan adalah agar tidak terjadi penyusutan tanah yang dapat mengakibatkan lantai menjadi tidak kokoh dan pecah. Bahan yang digunakan untuk urugan adalah tanah urug atau pasir urug dengan ketebalan 15-20 cm.
 
Langkah pengurugan adalah sebagai berikut.
1. Permukaan tanah dibersihkan dari kotoran, seperti sisa-sisa adukan, potongan kayu, sisa gergajian dan Iain-lain.
2. Jika urugan cukup tebal (> 20 cm ), urugan tanah dibuat berlapislapis, dengan tebal setiap lapisan 15-20 cm dengan cara dipadatkan alat pemadat yang dialiri air sampai jenuh. Hal ini dilaksanakan sampai permukaan tanah tidak menunjukkan penurunan lagi.
3. Pekerjaan selanjutnya urugan pasir diatasnya yang pelaksanaannya seperti pada pelaksanaan diatas.


Ketentuan Umum Pemasangan Lantai Ubin

 
Lantai ubin terdiri dari ubin semen portland yang bahannya merupakan campuran pasir dengan semem dan permukaannya dari lapisan semen Portland murni, granite dan sebagainya. Menurut motifnya dibedakan atas ubin galasan, ubin-sisik, ubin-kembang dan sebagainya. Ukuran ubin biasanya 15 X 15; 20 X 20 dan 30 X 30 cm dengan tebal 2cm.
 
Ketentuan umum pemasangan ubin lantai yang menggunakan bentuk segi empat dengan menggunakan spesi/adukan adalah sebagai berikut;
1. Tentukan letak titik tertinggi sebagai dasar muka lantai, yang biasanya diambil dibawah pintu.
2. Pemasangan pertama dilakukan di bawah pintu dengan menggunakan adukan.
3. Dari muka atas pasangan pertama ditarik benang kearah sudutsudut ruangan lalu pada masing-masing sudut dipasang satu pasangan lantai sebagai pedoman untuk tinggi muka lantai.
4. Dari tempat pasangan lantai sudut ditarik benang-benang sejajar tepi ruangan untuk menetapkan letak titik-titik antara atau tengahtengah ruangan.
5. Di tempat-tempat tersebut dipasang patok. Pada patok dipakukan papan untuk tarikan-benang, seperti pada pemasangan papan bangunan. Pemasangan papan harus datar dan diperiksa dengan alat sipat datar.
6. Dari papan-papan ini direntangkan benang untuk tarikan benang pemasangan. Mula-mula ditarik benang dari pasangan lantai pertama di dekat pintu, kemudian pada arah tegak lurus direntangkan juga benang untuk tarikan-benang kearah silang lainnya.
7. Dari tempat tarikan benang tersebut dimulai pemasangan satu baris ubin lantai.
8. Untuk tiap pemasangan dipakai adukan yang cukup untuk luas satu pasangan ubin lantai. Bahan lantai didesak dengan kekuatan sedang sampai rata dan sejajar dengan benang-tarikan.
9. Pemasangan berikutnya kearah tegak lurus terhadap arah pemasangan pasangan yang pertama, begitu seterusnya, sehingga bagian ujung sudut ruangan terpasang penuh dengan ubin lantai.
10. Pemasangan dilakukan dengan cara mundur menuju kearah pintu agar ubin lantai yang telah selesai dipasang tidak terganggu oleh pemasangan lantai berikutnya, sebab adukannya belum mengeras.
11. Untuk menjaga agar pemasangan ubin yang telah selesai tidak rusak. maka pada tempat-tempat tertentu diletakkan papan untuk jalan di atasnya.
 
Gambar VI-1, Ketentuan Umum Pemasangan Ubin Lantai
 
Gambar VI-2, Benang Tarikan Sebagai Pedoman Pemasangan Ubin
 


Jumat, 09 Mei 2014

Lantai Mozaik

Lantai Mozaik

 

1. Mengenal Mozaik

 
Mozaik semakin populer untuk mempercantik elemen bangunan. Ia menjadi pelapis dinding, lantai kamar mandi, back panel dapur, pelapis saniter, hingga dinding dan lantai kolam renang. Selain pada elemen bangunan, mozaik juga dapat diaplikasikan sebagai aksen pada sekat ruangan.
 
Tak ubahnya keramik lantai atau dinding, mozaik terbuat dari porselen, kaolin, dan bahan khusus. Ramuan itu dioven pada suhu 2.200ÂșC selama 24 jam. Daya tekannya mencapai 500kg/cm2. Berbentuk kepingan, mozaik dirangkai di atas jaring benang. Ukuran keping bervariasi, ada yang 18mmx18mm, 25mmx25mm, 28mmx28mm, 35mmx35mm, juga 50mmx50mm. Masing-masing keping memiliki tebal 3mm-4mm. Sebagai pengikat antarkepingan adalah jejaring berbahan nilon, mirip benang. Jaring berperan sebagai pengikat sekaligus perekat kepingan mozaik. Agar tak lepas, jejaring dilem ke bagian belakang mozaik. Jejaring juga memudahkan pemasangan.
 
Mozaik memiliki bentuk, desain, dan warna beragam. Ada yang berbentuk kotak siku, bulat, kotak lengkung, dan segienam. Model lainnya berupa kembangan, dekoratif, dan acak. Variasi warnanya sampai ratusan, mirip dengan color card dari cat. Inilah yang membuat mozaik menjadi bahan pencitraan elemen rumah. Ia berupa kepingan yang dapat mengubah tampilan lantai atau dinding menjadi indah.
 
Gambar VI-7, Lantai Mozaik
 
 

2. Cara Memasang Mozaik

 
Memasang mozaik perlu ketelitian. Selain butuh nat tipis, berkisar 2mm-3mm, mozaik juga perlu perlakuan khusus. Cara memasang mozaik adalah sebagai berikut;
    a. Mozaik tidak boleh direndam dalam air. Air dapat merusak dan menghilangkan lem perekat pada jejaring di balik keping mozaik.
    b. Tidak semua tukang keramik dapat memasang mozaik. Ada baiknya pilih tukang khusus mozaik. Jika sulit dapat berkonsultasi kepada distributor mozaik.
    c. Nat mozaik cukup kecil berkisar 2mm-3mm. Oleh sebab itu, gunakan pengisi nat khusus dan bukan menggunakan semen biasa. Jenis semen biasa dapat membuat tampilan nat tidak rapi.
    d. Perawatan mozaik menggunakan kain lap basah, tak perlu diguyur dengan air. Lakukan pembersihan segera jika mozaik di dinding atau lantai terkena noda
 
Gambar VI-8, Hasil Pemasangan Mozaik
 


Rabu, 07 Mei 2014

Pengecoran dan Perawatan Beton

Pengecoran dan Perawatan Beton

 
 
Pengecoran Beton
 
Hal-hal yang dilaksanakan dalam pengecoran beton adalah sebagai berikut;
 
    a. Pengecoran beton harus dapat mengisi semua ruangan cetakan dengan padat dan dapat membungkus tulangan.

    b. Untuk menghasilkan beton yang padat dan tidak keropos, selama proses pengecoran berlangsung, adukan beton ditusuk-tusuk dengan sepotong kayu, bambu atau besi. Begitu juga bagian cetakan dipukul-pukul dengan palu dari kayu.

    c. Untuk keperluan pemadatan, pada pengecoran beton dapat juga dipakai alat penggetar (vibrator). Pemakaian alat penggetartersebut harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengenai bajatulangan yang dapat mengubah kedudukan tulangan.

    d. Untuk pengecoran lantai yang luas, tebal lantai dapat ditentukan dengan membuat mistar pengukur ketebalan yang terbuat dari kayu dan diberi kaki. Bagian bawah mistar pengukur dibuat rata dan tingginya sama dengan tebal lantai yang dicor. Pada waktu pengecoran telah mencapai tebalnya, mistar pengukur dapat dipindah tempatnya.

    e. Pengecoran harus dilaksanakan terus menerus sampai selesai. Bila hal tersebut tidak memungkinkan, pengecoran dapat dihentikan pada tempat-tempat tertentu yang tidak membahayakan.
 
Gambar VIII-5, Pengecoran Beton
 
Perawatan Beton
 
1. Perawatan Beton Sehabis Dicor.
 
Selama 24 jam sesudah selesai dicor, beton harus dilindungi terhadap pengaruh hujan lebat, air mengalir, getaran. Selama 2 minggu setelah dicor harus dilindungi terhadap panas matahari. Cara perlindungannya adalah dengan menutup permukaan beton menggunakan pasir basah, menutup dengan karung-karung basah, atau menyirami dengan air.
 
2. Pembongkaran Acuan dan Perancah
 
Cara pembongkaran cetakan dan acuan adalah sebagai berikut;
 
    a. Acuan dan perancah hanya boleh dibongkar apabila bagian konstruksi tersebut telah mencapai kekuatan yang cukup untuk memikul berat sendiri dan beban-beban pelaksanaan yang bekerjapadanya. Waktu pembongkaran biasanya 28 hari setelah selesai pengecoran.

    b. Pada bagian-bagian konstruksi di mana akibat pembongkaran cetakan dan acuan akan bekerja beban-beban yang lebih tinggi daripada beban rencana, maka cetakan dan acuan dari bagianbagian konstruksi itu tidak boleh dibongkar selama keadaan tersebut tetap berlangsung. Bagian-bagian konstruksi yang keropos harus segera diperbaiki dengan melakukan penambalan.
 


Jumat, 02 Mei 2014

Lantai Keramik

Lantai Keramik
 
Keramik pada awalnya berasal dari bahasa Yunani, keramikos yang artinya suatu bentuk dari tanah liat yang telah mengalami proses pembakaran. Lantai keramik atau ubin keramik adalah bahan penutup (finishing) lantai dari bahan keramik. Tujuan pemasangan ubin keramik selain sebagai penutup lantai adalah menambah kekuatan lantai, mempermudah pemeliharaan dan kebersihan lantai, serta mendekorasi ruangan (lantai). Selain fungsi-fungsi tersebut, efek pemasangan keramik lantai juga bisa menghadirkan atmosfer tertentu pada ruangan, tergantung jenis dan corak keramik yang dipilih.
 
Dalam kaitan dengan mutu ubin keramik dikenal istilah KW1, KW2, KW3, artinya dalam (1) satu kotak keramik KW1 berisi keramik kualitas paling baik dan nol kerusakan atau tidak ada yang cacat (reject), sedangkan KW berikutnya kualitasnya lebih rendah, seperti warna tidak sama persis sama, ukuran berselisih antara satu dengan lainnya berkisar 1 - 1.5 mm. Jenis dan merk lantai keramik yang ada dipasaran antara lain: Roman, KIA, IKAD, INA, White Horse, Masterina, Mulia, Acura, Hercules, KIG, Milan, Platinum, Genova dan sebagainya.
 
Gambar VI-3, Lantai Keramik
 
 
1. Jenis Keramik
 
Keramik dilihat dari penggunaan bahan dan proses pembuatan terbagi dalam dalam dua jenis keramik, yaitu:
 
    a. Keramik Tradisional
Keramik tradisional yaitu keramik yang dibuat dengan menggunakan bahan alam, seperti kuarsa, kaolin, dll. Yang termasuk keramik ini adalah: barang pecah belah (dinnerware), keperluan rumah tangga (tile, bricks), dan untuk industri (refractory).
 
    b. Keramik Halus
Fine ceramics (keramik modern atau biasa disebut keramik teknik, advanced ceramic, engineering ceramic, techical ceramic) adalah keramik yang dibuat dengan menggunakan oksida-oksida logam atau logam, seperti: oksida logam (Al2O3, ZrO2, MgO,dll). Penggunaannya: elemen pemanas, semikonduktor, komponen turbin, dan pada bidang medis.
 
Berdasarkan perletakkannya, jenis keramik dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
   
    a. Ubin Keramik Interior
 
Ubin keramik interior senantiasa terlindung dari hujan, dan sinar matahari langsung, oleh karena itu biasanya digunakan jenis ubin keramik polos atau dekoratif sesuai dengan fungsi ruang serta kesan yang diharapkan. Khusus ruang-ruang interior dengan kegiatan menggunakan peralatan yang menghasilkan panas serta adanya bahanbahan kimia, seprti laboratorium , dapur dan sebagainya maka gunakan ubin keramik yang resisten terhadap bahan-bahan pewarna, asam-basa, dan lemak, sehingga cairan yang tumpah dilantai dapat dengan mudah dibersihkan dan tidak merusak ubin keramik, serta resisten tinggi terhadap suhu tinggi. Jenis kermaik yang memenuhi kualitas tersebut anata lain keramik yang berglazur dan glossy. Sedang untuk ruang untuk kegiatan basah, seperti kamar mandi, tempat cuci gunakan keramik berglasur dengan tekstur pada permukaannya, sehingga tidak licin pada waktu basah dan mudah dibersihkan Keramik dinding juga lazim dipakai untuk kamar mandi, jenis yang cocok adalah keramik dinding berglasur, kilap yang resisten terhadap bahan-bahan kimia serta mudah dibersihkan.
 
    b. Ubin Keramik Eksterior
 
Untuk lantai eksterior dan sering kena hujan dan sinar matahari secara langsung disarankan pilih jenis keramik tahan perubaha cuaca, ditandai dengan daya serap air rendah, permukaan berglazur, tidak mengkilap (berkesan suram), karena jenis warna kusam tidak sensitif terhadap abrasi/goresan. Jenis keramik untuuk eksterior dipasaran dikenal dengan embossed (tidak rata).
 
Gambar VI-4, Keramik Dekoratif
 
Khusus untuk tangga baik tangga interior maupun eksterior digunakan ubin khusus yaitu ubin keramik yang tidak licin, seperti keramik yang bertekstur atau dapat dipilih juga aksesoris keramik lantai yang memang khusus untuk dipasang pada anak tangga, yang bernama bullnose dan stepnose. Tipe ini pada permukaan terdapat granulagranula yang menimbulkan efek anti slip.
 
Gambar VI-5, Pemasangan Keramik Pada Konstruksi Tangga
 
 
2. Sifat Keramik
 
    a. Mudah pecah
Sifat yang umum dan mudah dilihat secara fisik pada kebanyakan jenis keramik adalah britle atau rapuh, hal ini dapat kita lihat pada keramik jenis tradisional seperti barang pecah belah, gelas, kendi, gerabah dan sebagainya, coba jatuhkan piring yang terbuat dari keramik bandingkan dengan piring dari logam atau melamin, pasti keramik mudah pecah, walaupun sifat ini tidak berlaku pada jenis keramik tertentu, terutama jenis keramik hasil sintering, dan campuran sintering antara keramik dengan logam.
 
    b. Tahan suhu tinggi
Sebagai contoh keramik tradisional yang terdiri dari clay, flint dan feldfar tahan sampai dengan suhu 1200 C, keramik engineering seperti keramik oksida mampu tahan sampai dengan suhu 2000 C.
 
    c. Kekuatan tekan tinggi,
sifat ini merupakan salah satu faktor yang membuat penelitian tentang keramik terus berkembang.
 
 
3. Kelebihan ubin keramik
 
    a. Kaya akan ragam jenis, corak, tekstur, harga dan bahan pembentuk (batu alam, granit, marmer)
    b. Kekuatan fisik tinggi (lebih tinggi dari parket), warna tahan sangat lama, serta mudah dalam membersihkannya.
    c. Permukaannya anti air (daya serap airnya kecil) sehingga mudah dalam pemeliharaan dan cara membersihkan)
    d. Tahan terhadap goresan pisau dan juga tahan panas (api).
 
 
4. Beberapa kekurangan ubin keramik
 
Meledak pada musim kemarau, terjadi akibat udara (tidak semua bagian di bawah keramik solid terisi adukan) panas yang terperangkap di bawah keramik memuai dan mendorong keramik hingga pecah (Ingat Indonesia beriklim tropik lembab), penyebab lain adalah adukan kurang homogen (adukan dilakukan sebentar, kurang lama) yang memngakibatkan daya rekat tidak tahan lama sehingga beberapa waktu kemudian ubin keramik lepas.
 
Gambar VI-6, Macam Lantai Keramik
 
 
5. Pemasangan Lantai Keramik
 
Sebelum memasang ubin keramik diatas dasar lantai beton, ada beberapa hal yang harus diperhatiakn dan dilakukan, yaitu menghitung secara akurat ubin keramik yang dibutuhkan. Buatlah gambar desain pola lantai dan lajur pemasangan (arah horizontal, vertikal atau diagonal luas ruang) untuk membantu menghitung secara detail kebutuhan keramik (lebihkan sekitar 5 % untuk persediaan, bila waktu pemasangan pasang ada yang rusak, dan cadangan apabila ada kerusakan dikemudian hari, disebabkan stok terbatas dan selang bebrapa waktu kemungkinan tidak diproduksi lagi). Dan pastikan ubin keramik yang datang dan akan dipasang sesuai kode, ukuran warna yang dipesan.
 
    a. Rendam keramik dalam air.
Hal ini akan membuat keramik menjadi lebih elastis dan pada saat pemasangan dapat dengan mudah menempel. Perhatikan kualitas keramik. Jika ia keramik kw 1 maka tak ada masalah, namun jika ia merupakan kw 2 atau 3 akan susah memasang untuk presisi. Untuk itu nat keramik harus longgar karena masing-masing keramik memiliki selisih 0,2-0,5 mm. Hingga keramik tidak saling bertubrukan.
    b. Oleskan air semen.
Bilaskan semen yang sudah dicampuri air sedikit ke bawah keramik, hal ini akan membuat daya rekat keramik ke adukan benar-benar lengket.
    c. Adukan dan permukaan dasar lantai beton harus benar-benar bersih.
Adukan harus benar-benar homogen atau semen, pasir dan air sudah sudah diaduk sehingg benar-benar bercampur dengan baiik dan dasar lantai yang akan dipasang harus bersih dari kerikil, batu atau ganjalan-ganjalan lain yang akan membuat rongga di bawah keramik.
    d. Padatkan secara rata.
Ketuk keramik yang baru dipasang dan pastikan tidak ada yang kopong atau bagian dasar yang berongga. Karena keadaan demikian akan membuat keramik lepas di kemudian hari. Periksa apakah ketinggiannya sudah sama rata dengan benang yang ditarik untuk menentukan ketinggian lantai.
    e. Nat keramik dipasang belakangan.
Jangan pasang semen oker atau nat pada sisi keramik saat itu juga. Biarkan ubin keramik yang telah terpasang selama 2 atau 3 hari. Hal ini akan membuat sisa udara yang mengendap akan keluar melalui bagian nat yang belum ditutup. Setelah itu baru diberi semen nat dan jangan lupa membersihkan nat yang masih kosong dari kotoran yang mengendap.
    f. Jangan diinjak-injak.
Amankan areal keramik yang baru dipasang dari lalu lalang orang selama 2-3 hari. Jangan biarkan ubin keramik akan ambles karena adukan dibawahnya masih belum kuat untuk dibebani.
    g. Periksa hasil pemasangan.
Periksa kembali semua ubin keramik yang telah terpasang dengan memukul atau ketukan-ketukan dengan batang kayu pada permukaan satu ubin keramik, kemudian lakukan pada ubin keramik berikutnya dan seterusnya. Pastikan dibawah ubin keramik yang terpasang semuanya padat terisi adukan dan tidak ada yang kopong. Dalam sebuah areal pemasangan seukuran 3 x 3 m biasanya terdapat 3-5 keramik yang kopong. Untuk itu segera bongkar keramik tersebut dan ulangi pemasangannya.
 
 
6. Cara Sederhana Membuat Jarak Nat
 
    1) Gunakan plastik spacer Cara yang lazim digunakan untuk menetukan/mengatur jarak nat adalah dengan plastic spacer yang banyak dijual di toko-toko keramik. Ukurannya bermacam-macam, memberikan banyak pilihan penentuan lebar nat. Plastic spacer tersebut ditempatkan disamping (atas), dan dapat dengan muda dilepaskan dan dipasang kembali. Pemakaiannya sangat fleksibel.
 
    2) Menggunakan papan kayu Cara lain untuk menentukan lebar nat adalah dengan menggunakan penanda dari kayu. Lebar nat ditandai dengan pensil atau yang lainnya. Pemakaian dengan cara ini fleksibel sekali tetapi dalam aplikasinya mungkin lebih sulit. Pemasangan keramik dinding biasanya dipergunakan paku yang dipasang benang yang direntangkan dari satu sisi kesisi berikutnya untuk ketepatan pemasnagan dan menyeragamkan lebar nat
 


Rabu, 30 April 2014

Daftar Pustaka Teknik Konstruksi Gedung

Daftar Pustaka Teknik Konstruksi Gedung
 
 
Ahmad Fa’izin. 2007. Ragam Bentuk, Bahan dan Variasi. Depok: Penebar Swadaya.
Anthony Joddie P Palgunadi. 2007. Memahami Listrik Rumah Tinggal. Boyolali: Kaliptra Raya.
 
Baer, Charles J & Ottaway John R. 1980, Electrical and Electronics Drawing Fourth Edition. New York: Mc Graw-Hill Company.
Bayu Ismaya, Titut Wibisono, Nurhidayat. 2006. 81 Tips Mengatasi Kerusakan Rumah. Depok: Penebar Swadaya.
Brechmann, Gerhard. 1993. Table for the Electric Trade. Deutche Gesselchaft fiir Technische Zusammenarbeit (GTZ) Gmbh, Eschborn Federal Republic of Germany.
Budi Jasin, Mauro. 1981. Teknik Presentasi Gambar Arsitektur. Bandung.
 
Dalih S A, Oja Sutiarno. 1982. Keselamatan Kerja Dalam Tatalaksana Bengkel. Jakarta: Melton Putra.
Darsono & Agus Ponidjo (t.th). Petunjuk Praktek Listrik 2. Depdikbud Dikmenjur.
Daryanto. 1988. Pengetahuan Teknik Bangunan. Jakarta: Bina Aksara.
Daryanto. 2007. Kumpulan Gambar Teknik Bangunan. Jakarta: Rineka Cipta.
Dedy Rusmadi. 2001. Belajar Instalasi Listrik. Bandung: Pionir Jaya.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Standar Kompetesi Nasional Bidang Teknologi Perkayuan. Jakarta: Bagian Proyek Sistem Pengembangan Sertifikasi dan Standarisasi Profesi.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Standar Kompetesi Nasional Bidang Gambar Bangunan. Jakarta: Bagian Proyek Sistem Pengembangan Sertifikasi dan Standarisasi Profesi.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Standar Kompetesi Nasional Bidang Survey dan Pemetaan. Jakarta: Bagian Proyek Sistem Pengembangan Sertifikasi dan Standarisasi Profesi.
Dikmenjur. 2000. Rumah Yang Ekologis. Malang: PPPGT/VEDC.
Donalde E Hepler, Paul I Wallach. 1977. Architecture Drafting and Design. New York: McGraw-Hill Book Company.
 
E. Diraatmadja. 1987. Membangun. Jakarta: Erlangga.
Edward Allen. 2005. Dasar-Dasar Konstruksi Bangunan. Jakarta: Erlangga.
 
Harten, P. Van & E. Setiawan.1991. Instalasi Listrik Arus Kuat 1. Jakarta: Binacipta.
Heinz Frick. 1975. Menggambar Bangunan Kayu. Yogyakarta: Kanisius.
Heinz Frick. 1980. Ilmu Konstruksi Bangunan 1. Yogyakarta: Kanisius.
Heinz Frick. 1984. Rumah Sederhana Kebijakan, Perencanaan dan Konstruksi. Yogyakarta: Kanisius.
Heinz Frick, Petra Widmer. 2006. Membangun, Membentuk, Menghuni. Yogyakarta: Kanisius.
Hendarsin, H. 1983. Ringkasan Ilmu Bangunan. Jakarta: Erlangga.
 
IK Supribadi. 1986. Ilmu Bangunan Gedung. Bandung: Armico.
Iman Subarkah. 1988. Konstruksi Bangunan Gedung. Bandung: Idea Dharma.
Imelda Akmal Architecture Writer. 2007. Saniter. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 
Koch, Robert. 1997. Perencanaan Instalasi Listrik. Bandung: Angkasa.
Konstruksi. 1995. Pengembangan Kota Medan. Jakarta: PT. Tend Pembangunan.
Konstruksi. 1995. Revitalisasi Kota Lama Jakarta. Jakarta: PT. Tend Pembangunan.
 
Leslie Woolley. 1974. Sanitation Details. London: Northwood Publications
 
Mistra. 2006. Panduan Membangun Rumah. Depok: Penebar Swadaya.
 
Renggo. S.W. 1997. Menghitung Biaya Membuat Rumah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rita Laksmitasari Rahayu. 2007. Sistem dan Perencanaan Plumbing. Jakarta: Prima Infosarana Media.
Robby Setiawan. 2007. Panduan Praktis Membangun Rumah Tinggal. Jakarta: Kawan Pustaka.
Rudy Gunawan. 1994. Pengantar Ilmu Bangunan. Yogyakarta: Kanisius.
 
Schaarwachter. 1996. Perspektif untuk Para Arsitek. Jakarta: Erlangga.
Singh, Surjit. 1984. General Electric Drawing. New Delhi: PK & Co Technical Publisher..
Slamet Mulyono & Djihar Pasaribu 1978. Menggambar Teknik Listrik 2. Jakarta: Depdikbud.
Soetjipto, dan Ismoyo. 1978. Konstruksi Beton Bertulang 1. Jakarta: Dikdasmen.
Soegihardjo, Soedibyo. 1977. Ilmu Bangunan Gedung 1. Jakarta: Dikdasmen.
Soegihardjo, Soedibyo. 1977. Ilmu Bangunan Gedung 2. Jakarta: Dikdasmen.
Soegihardjo, Soedibyo. 1977. Ilmu Bangunan Gedung 3. Jakarta: Dikdasmen.
Soufyan M Noerbambang, Takeo Morimura. 1986. Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: Pradnya Paramita.
Supribadi. 1993. Ilmu Bangunan Gedung. Bandung: Armico.
Suratman, Sudibyo. 1982. Petunjuk Praktek Bangunan Gedung 2. Jakarta: Abadi.
Suryatmo, F. 1993. Teknik Listrik Instalasi Penerangan. Jakarta: Rineka Cipta.
 
Takeshi Sato & N. Sugiarto. 1986. Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. Jakarta: Pradnya Paramita. Jakarta.
Tim FT UNY. 2001. Memasang Daun Pintu dan Jendela. Jakarta: Dikmenjur.
_.2001. Memasang Kusen Pada Dinding Paangan. Jakarta: Dikmenjur.
TotoMedia. 2007. Grand Opening TOTO Gallery Panglima Polim. Jakarta: PT. Surya Toto Indonesia Tbk.
TotoMedia. 2007. Melewatkan Liburan di Kota Kembang. Jakarta: Surya Toto Indonesia.
 
Walker, Theodore D. 1989. Sketsa Perspektif. Jakarta: Erlangga.
Wamar. 1996. Konstruksi Batu. Bandung: Angkasa.
Widodo. 1983. Rumah Tahan Gempa (RTG) TUKU KALI (MenyaTu, Kuat, Kaku, Liat). Yogyakarta: Rumah Produksi Informatika.
 
Zamtinah. 1990. Diktat Gambar Teknik. Yogyakarta: FPTK IKIP Yogyakarta.
 
www.mciindonesia.tripod.com. Akses Tanggal 10 Oktober 2007.
www.wpkl.jkr.gw. Akses Tanggal 11 Oktober 2007.
www.karyanet.com. Akses Tanggal 11 Oktober 2007.
www.gufi.indika.net.id. Akses Tanggal 12 Oktober 2007.
www.rumah.masrafa.com. Akses Tanggal 12 Oktober 2007.
www.sarikayu.co.id . Akses Tanggal 13 Oktober 2007
www.tepaksireh.com. Akses Tanggal 15 Oktober 2007.
www.wvansantvoort.nl. Akses Tanggal 17 Oktober 2007.
www.planetmaison.com. Akses Tanggal 17 Oktober 2007.
www.procolor.fr . Akses Tanggal 17 Oktober 2007.
www.mukimits.com. Akses Tanggal 20 Oktober 2007.
www.drymix.co.id. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.indonetwork.co.id. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.rumahjogja.com. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.kompas.com. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.sonjaya.com. Akses Tanggal 27 Oktober 2007
http://www.indanapaint.com/cat_genteng.htm. Akses Tanggal 27 Oktober 2007.
http://www.ideaonline.co.id. Akses Tanggal 27 Oktober 2007.
http://www.tentangKAYU.com. Akses Tanggal 27 Oktober 2007.


 

Jumat, 25 April 2014

Penutup Dinding

Penutup Dinding

 

1. Penutup Dinding dengan Batu Tempel/Hias

 

    a. Cara Pemasangan Beragam batu tempel/hias tersedia di pasar.

 
Cara pemasangan batu tempel/hias adalah sebagai berikut;
        1) Awali pemasangan dengan menetukan pola pemasangan. Pemasangan rata atau tidak rata (maju-mundur) tergantung selera. Jika ingin memasang dengan pola permukaan tidak rata, tentukan pola dan tinggi satu batu dengan batu lainnya.
        2) Pastikan ukuran batu sesuai ukuran dinding yang akan ditempeli. Jika dibutuhkan ukuran khusus, potong batu alam menggunakan alat pemotong batu atau keramik.
        3) Untuk menempelkan batu pada dinding, tuangkan semen ke bagian belakang batu. Tuang hati-hati agar cairan semen tidak mengotori bagian depan. Jika ada sisa air atau adukan semen menempel pada bagian depan, segera bersihkan.
        4) Berbeda dengan memasang lantai keramik, pemasangan batu alam tanpa nat akan lebih menarik. Jika menghendaki efek batu menyambung, hindari mengisikan adukan semen di antara celah batu.
        5) Setelah seluruh batu terpasang, tunggu satu-dua hari sampai semen kering dan batu menempel erat. Setelahnya, bersihkan dinding dengan menyemprotkan air pada dinding batu hingga debu dan kotoran hilang. Jika dibutukan, gunakan sikat kawat untuk merontokkan kotoran membandel.
 
Gambar VI-9, Penutup Dinding dengan Batu Tempel/Hias

    b. Coating atau Pengecatan Batu Tempel/Hias


Batu tempel/hias mempunyai pori-pori besar sehingga mudah menyerap air. Batu yang terkena air terus menerus bakal berlumut dan berjamur. Dua hal tersebut dapat membuat tampilan batu tak indah lagi. Untuk mengatasinya, maka batu tempel perlu dicoating/cat.

Coating hanya salah satu bentuk upaya mencegah batu tempel/hias pada dinding rumah rusak akibat dampak buruk air dan perubahan cuaca. Meski terlihat mudah, proses coating tidak boleh dilakukan sembarangan. Coating harus dilakukan secara periodic, Minimal setahun sekali. Pilihan jenis cairan coating pun harus disesuaikan dengan karakteristik batu. Tidak semuanya cocok diaplikasikan ke semua batu alam. Batu dengan poritasitas tinggi lebih cocok dicoating dengan larutan kimia yang lebih rendah. Batuan keras macam batu kali dan andesit, lebih tepat menggunakan coating yang mengkilap. Sebaliknya, batuan dengan porositas tinggi cocok dengan coating dof.
 
Gambar VI-10, Hasil Coating pada Dinding dengan Batu Tempel/Hias

 
2. Penutup Dinding dengan Keramik
 
Pelapisan dengan keramik biasnya dilakukan pada dinding kamar mandi dan dinding dapur dengan susunan keramik di bagian bawah dinding dan lis di bagian atas dinding. Model dan motif dari keramik dan lis dinding tersebut mempunyai banyak ragam.
 
Gambar VI-11, Finishing dengan Pelapisan Keramik
 
 
3. Penutup Dinding dengan Gypsum
 
 
Gambar VI-12. Sistem pelapis dinding batu ini menggunakan 1 lapis papan gipsum. Furring Channel dan Direct Fixed Clip, diaplikasikan pada 1 sisi. Rongga yang terdapat di antara papan gipsum dan dinding batu dapat difungsikan untuk instalasi ME (mekanikalelektrikal) atau insulasi (jika diperlukan).
 
Gambar VI-13. Potongan samping pelapis dinding
 
 
4. Dinding Partisi
 
Untuk membuat kesan ruangan menjadi luas atau terbagi-bagi dapat dilakukan dengan cara membuat dinding partisi.
 
Cara membuat dinding partisi adalah sebagai berikut;
    a. Tentukan model partisi yang diinginkan. Kini ada banyak variasi untuk menyamarkan ruangan. Partisi dapat menyerupai dinding utuh dengan modifikasi material atau partisi yang menyerupai lemari untuk menyimpan barang.
    b. Ukur jarak antarruang yang akan ditutupi, sebaiknya saat membagi ruang didukung oleh dinding struktur, sehingga partisi akan terlihat seperti dinding sungguhan.
    c. Pilih material sesuai kebutuhan. Lalu buat rangka struktur partisi dengan menggunakan material tersebut.
    d. Setelah partisi terbentuk, beri finishing warna yang sesuai dengan warna kusen dan pintu.
    e. Langkah terakhir, pasang pintu pada ruang yang telah ditentukan. Untuk menyamarkan pintu, handel dapat dipasang pada satu sisi, yakni bagian dalam.
    f. Jika dinding pintu partisi memiliki jarak yang cukup lebar, meja kecil dapat menjadi penghias sebagian pintu. Melalui cara ini, dinding akan terlihat seperti bukan partisi.
 
Gambar VI-14, Dinding Partisi
 


Rabu, 23 April 2014

Daftar Istilah Konstruksi Gedung

Daftar Istilah Konstruksi Gedung

 
 
aanstamping : pasangan batu kosong yang berfungsi sebagai drainage untuk mengeringkan air tanah yang terdapat di sekitar badan pondasi
aantrede (tread) : anak tangga langkah datar
aptrede(riser) : anak tangga langkah naik
angkur : penghubung kosen dengan pasangan dinding terbuat dari besi beton
apartemen : rumah tinggal sementara

balok kopel : balok beton penan momen
balok Sopi-sopi : sloof berbentuk kuda-kuda
bath mixer shower : bak penampung air dari pancuran mandi
bathtub freestanding : bak mandi tidur yang dipasang bebas
bathub : bak mandi tidur yang dipasang tertanam
beton siklop : beton yang dicampur dengan batu kali
bidet : tempat baung air kecil untuk wanita
bordes (landing) : pemberhentian sementara pada tangga
bouwplank : papan bangunan

eksterior : desain di luar bangunan
elevated water tank : penampung air yang terletak di atas
elevator/ lift : tempat penghubung antar lantai elektrik
eskalator : tangga berjalan

floor drain : lubang saluran pembuang

garis sepadan bangunan : garis batas bangunan

handle : pegangan pintu
hebel : dinding dari beton mutu tinggi

interior : desain di dalam bangunan

jet pum : pompa air tekanan tinggi

kitchen set : almari perkakas dapur

looplijn : garis jalan

neut : penguat kosen pada ambang tegak (kaki kosen)

pantry : meja dapur
paving block : penutup lantai dari campuran semen portlan dengan pasir
plumbing : peralatan dan instalasi air bersih dan air kotor

ring balok : balok beton di atas pasangan dinding

sagrod : besi bulat terbuat dari tulangan polos dengan kedua ujungnya memiliki ulir dan baut
saniter dan rioolering : saluran air bersih dan saluran air kotor
septictank : bak penampung kotoran padat
sloof : balok beton di atas pondasi
Skycraper : bangunan pencakar langit

toilet roll holder : tempat gulungan kertas tisuue
towel rail : gantungan handuk

uitzet : pengukuran pada awal pendirian bangunan
Urinoar : tempat Luang air kecil pria

veerscharnier : engsel skarnir pegas

wastafel : tempat cuci tangan
water Closet : tempat Luang air besar (jongkok/duduk)
waterpas : alat penyipat datar

zaking : penurunan setempat-setempat pada bangunan

 

Jumat, 18 April 2014

Memeriksa Bahan di Lapangan

MEMERIKSA BAHAN DI LAPANGAN

 

A. Memeriksa Material Agregat Halus dan Kasar

 
Agregat adalah butir-butiran mineral yang bila dicampur dengan semen portland akan menghasilkan beton. Dilihat dari asal bahan, agregat terdiri dari dua macam, yaitu agregat batuan alam dan agregat buatan. Untuk agregat batuan alam, berdasarkan ukurannya terbagi 2 macam, yaitu agregat halus (pasir) dan agregat kasar (krikil atau kricak/batu pecah).
 
Di dalam beton, agregat merupakan bahan pengisi yang netral dengan komposisi 70-75% dari masa beton. Tujuan penggunaan agregat di dalam adukan beton adalah;
    1. Menghemat penggunaan semen portland.
    2. Menghasilkan kekuatan besar pada beton.
    3. Mengurangi penyusutan pada pengerasan beton.
    4. Dengan gradasi agregat yang baik dapat tercapai beton padat.
    5. Sifat dapat dikerjakan (workability) dapat diperiksa pada adukan beton dengan gradasi yang baik.
 
Sifat dapat dikerjakan dari adukan beton dapat diusahakandengan mengatur gradasi dari agregat. Gradasi agregat yang baik akanmenghasilkan beton padat. Susunan beton padat akan menghasilkankekuatan besar pada beton. Agregat yang baik harus keras, kuat dan ulet. Kekuatannya melebihi kekuatan pasta semen yang telah mengeras.Agregat mengandung pori-pori tertutup tetapi tidak menambah sifat tembus air betonnya. Semakin banyak agregat di dalam beton semakin berkurang susut beton di dalam proses pengerasan.
 

    1. Agregat Halus (Pasir)

 
Pasir adalah bahan batuan halus, terdiri dari butiran dengan ukuran 0,14-5 mm, didapat dari basil desintegrasi batuan alam (natural sand) atau dengan memecah (artificial sand).
 
Sebagai bahan adukan, baik untuk spesi maupun beton, maka agregat halus harus diperiksa secara lapangan. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan agregat halus di lapangan adalah;
        a. Agregat halus terdiri dari butir-butir tajam dan keras. Butir agregat halus harus bersifat kekal, arlinya tidak pecah atau hancur olehpengaruh-pengaruh cuaca.
        b. Agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat kering). Apabila kadar lumpurmelampaui 5%, maka agregat halus harus dicuci.
        c. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalubanyak, hal tersebut dapat diamati dari warna agregat halus.
        d. Agregat yang berasal dari laut tidak boleh digunakan sebagai agregat halus untuk semua adukan spesi dan beton.
 

    2. Agregat Kasar (Krikil/Batu Pecah)

 
Agregat kasar dibedakan atas 2 macam, yaitu krikil (dari batuan alam) dan kricak (dari batuan alam yang dipecah). Menurut asalnya krikil dapat dibedakan atas; krikil galian, krikil sungai dan krikil pantai. Krikil galian baisanya mengandung zat-zat seperti tanah liat, debu, pasir dan zat-zat organik. Krikil sungai dan krikil pantai biasanya bebas dari zat-zat yang tercampur, permukaannya licin dan bentuknya lebih bulat. Hal ini disebabkan karena pengaruh air. Butir-butir krikil alam yang kasar akanmenjamin pengikatan adukan lebih baik. Batu pecah (kricak) adalah agregat kasar yang diperoleh dari batu alam yang dipecah, berukuran 5-70 mm.
 
Panggilingan/pemecahan biasanya dilakukan dengan mesin pemecah batu (Jaw breaker/ crusher). Menurut ukurannya, krikil/kricak dapat dibedakan atas;
        a. Ukuran butir : 5 -1 0 mm disebut krikil/kricak halus,
        b. Ukuran butir : 10-20 mm disebut krikil/kricak sedang,
        c. Ukuran butir : 20-40 mm disebut krikil/kricak kasar,
        d. Ukuran butir : 40-70 mm disebut krikil/kricak kasar sekali.
        e. Ukuran butir >70 mm digunakan untuk konstruksi beton siklop (cyclopen concreten). Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm.
 
Sebagai bahan adukan beton, maka agregat kasar harus diperiksa secara lapangan. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan agregat halus di lapangan adalah;
        a. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melebihi 20% dari berat agregat seluruhnya. Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca.
        b. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap berat kering). Apabila kadar lumpur melampaui 1%, maka agregat kasar harus dicuci.
        c. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapatmerusak beton, seperti zat-zat yang relatif alkali.
        d. Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari pada 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping cetakan, 1/3 dari tebal pelatatau 3/4 dari jarak bersih minimum batang-batang tulangan.
 
 
B. Memeriksa Material Semen
 
Semen portland (PC) sebagai komponen beton atau berfungsi sebagai bahan pengikat anorganik secara umum sifat utamanya adalah mengikat dengan adanya air dan mengeras secara hidrolik. Semen portland merupakan bahan bubukan halus, butirnya sekitar 0,05 mmdan pada hakekatnya terdiri dari hablur-hablur senyawa yangkornpleks. Bahan baku semen sangat tergantung pada kadar bahanasli yang terdapat di daerah tertentu.
 
Untuk konstruksi bangunan sederhana, pemeriksaan semen di lapangan sangat jarang dilakukan, karena semen portland yang beredar di pasaran sudah dinyatakan layak pakai oleh badan yang berwenang. Beberapa pemeriksaan semen di lapangan diantaranya adalah;
 
    1. Pengujian Pengikatan Awal dengan Kuku
 
Cara pengujiannya adalah sebagai berikut;
        a. 100 gram semen portland dicampur dengan air sebanyak 25-30 gram, diaduk selama 3 menit sampai menjadi adonan yang tegar. Adukan tadi kemudian di dibuat dalam bentuk kue di atas pelatkaca dengan garis tengah 10 cm dan tinggi di tengahnya 1,5 cmmenipis ke tepinya.
        b. Dengan kuku tangan atau pisau kecil dari waktu ke waktu dibuat goresan pada adonan tersebut. Bila goresan tetap ada, (tidak menutup kembali),maka dianggap bahwa ikatan mulai terjadi. Akhir ikatan dicapai bila dengan tekanan ringan sudah tidak didapatkan goresan yang dalam.
 
    2. Pengujian Kekelan Bentuk dengan Pembakaran Bola
 
Caranya pengujiannya adalah sebagai berikut;
        a. 100 grm semen portland diaduk dengan air sebanyak 20 gram. Dengan telapak tangan selama 5 menit dibuat menjadi bola.Jumlah air yang dianggap tepat bila bola tersebut agak lembabdan kalau sedikit ditekan terjadi sedikit perubahan bentuk tanpamenjadi hancur. Kelebihan air dapat dihilangkan dengan menggulirgulir bola semen tersebut di atas sehelai kertas penghisap. Bolatersebut diletakkan di atas sebuah pelat baja dan dipanasi dengan kompor pembakar. Pemanasan harus berjalan secarabertahap, sehingga dalam waktu setengah jam nyala apin mengenai pelat baja tersebut.
        b. Pengujian dihentikan bila sebuah cermin kaca diletakkan di atas bola semen tersebut tidak lagi berkabut karena embun. Kalau bolatersebut ternyata penuh dengan retak-retak dan pemuaianpemuaian, maka semen tidak memiliki kekekalan bentuk yang baik.
 


Rabu, 16 April 2014

Cara Melaksanakan Pekerjaan Pengukuran dan Papan Duga

Cara Melaksanakan Pekerjaan Pengukuran dan Papan Duga



Gambar III-9, Pekerjaan Uitzet dan Bouwplank

1. Tanamkan secara dipancang deretan patok-patok menurut kedudukan tarikan benang (garis BA) sebagai dasar pengukuran bangunan.
2. Pancangkan deretan patok-patok menurut kedudukan garis CD yang dibuat tegak lurus terhadap garis BA dengan menggunakan perbandingan dalil pythagoras (3:4:5).
3. Dengan cara yang sama, pancangkan deretan patok-pa-tok menurut garis EF dan GH.
4. Pada tiap-tiap patok beri tanda letaknya titik duga ± 0,00 dengan membuat bidang datar pada setiap patok.
5. Pasang bouwplank dengan berpedoman pada titik duga tersebut.
6. Tentukan letaknya titik-titik sumbu dinding tembok pada papan bouwplank, lalu tancapkan paku dan beri tanda dengan cat atau meni.

Jumat, 11 April 2014

Mengerjakan Beton

MENGERJAKAN BETON

 
 

A. Acuan dan Perancah

 
Acuan (cetakan) dan tiang acuan (perancah) adalah suatu konstruksi sementara, yang gunanya untuk mendukung terlaksananya pengerjaan adonan beton yang dicorkan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Jadi acuan dan perancah harus dapat menahan berat baja tulangan, adukan beton yang dicorkan, pekerja-pekerja pengecor beton dan lain sebagainya, sampai beton mengeras, sehingga dapat menahan berat sendiri dan beban kerja.
 
Acuan beton terdiri dari bidang bagian bawah dan samping. Papanpapan bagian bawah dari acuan yang tidak terletak langsung di atas tanah dipikul oleh gelagar acuan, sedangkan gelagar acuan didukung oleh perancah. Pada konstruksi beton yang langsung terletak di atas tanah, bagian bawah tidak perlu diberi cetakan, tetapi cukup dipasang lantai kerja dari beton dengan campuran 1 semen : 3pasir : 5 krikil dengan ketebalan 5 cm. Jadi, yang perlu diberi papan acuan bagian samping saja.
 
Untuk pekerjaan beton yang akan difinishing dengan plesteran, papan acuan tidak perlu dihaluskan, tetapi bila pekerjaan beton tidak memerlukan finishing, maka permukaan acuan harus licin. Untuk pekerjaan tersebut biasnya digunakan acuan dari multipleks, plywood, atau pelat baja.
 

    1. Bahan Acuan dan Perancah

 
Papan acuan dan tiang perancah yang digunakan biasanya dari kayu yang harganya murah dan mudah dikerjakan. Juga dapat dipergunakan pelat-pelat baja, pelat seng bergelombang, plywood dan lain sebagainya. Meskipun acuan dan perancah dibuat dari kayu yang murah, tetapi kayunya harus cukup baik dan tidak boleh terlalu basah, sebab kayu yang terlalu basah akan mudah melengkung dan pecah. Ukuran papan acuan biasanya adalah tebal 2-3 cm dan lebarnya 15-20 cm. Untuk perancah biasanya digunakan kasau 4/6 atau 5/7 cm, namun banyak juga yang menggunakan perancah dari bambu.
 
Perkembangan yang terjadi dewasa ini, banyak digunakan acuan yang telah siap rakit, papan acuan dari pelat baja, sedang perancahnya menggunakan frame scafolding.
 

    2. Persyaratan Acuan dan Perancah  
 
Syarat-syarat mengenai acuan dan perancah adalah sebagai berikut;
        a. Dapat menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk, ukuran, dan batas-batas sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar kerja.
        b. Kokoh dan cukup rapat, sehingga dapat dicegah adanya kebocoran adukan beton.
        c. Harus diberi ikatan-ikatan secukupnya, sehingga dapat terjamin kedudukan dan bentuk yang tetap.
        d. Terbuat dari bahan yang tidak mudah menyerap air dan direncanakan sedemikian rupa, sehingga mudah dibongkar tanpa menyebabkan kerusakan beton.
        e. Bersih dari kotoran serbuk gergaji, potongan kawat pengikat dan kotoran lainnya.
        f. Apabila acuan dan perancah harus memikul beban yang besar dan/atau dengan bentang yang besar atau memerlukan bentuk khusus, maka harus dilakukan perhitungan dan gambar kerja khusus.
 

    3. Perencanaan Acuan

 
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan/membuat acuan dan perancah adalah;
        a. Kecepatan dan cara pengecoran beton.
        b. Beban yang harus dipikul, termasuk beban, horisontal dan beban kejut.
        c. Selain kekuatan dan kekakuan acuan, kestabilitas juga perlu diperhitungkan dengan baik.
        d. Tiang-tiang acuan dari kayu harus dipasang di atas papan kayu yang kokoh dan mudah distel dengan baji. Tiang-tiang acuan tersebut tidak boleh mempunyai lebih dari satu sambungan yang tidak disokong ke arah samping. Bambu sebaiknya tidak digunakan sebagai tiang acuan.
 
Gambar VIII-1, Acuan dan Perancah
 
 
B. Memasang Tulangan/Pembesian
 
    1. Pemotongan dan Pembengkokan.
 
Pemotongan baja beton dengan garis tengah kecil biasanya digunakan gunting baja beton dengan tangan,sedangkan untuk garis tengah lebih besar digunakan mesin gunting yang digerakkan dengan tangan. Untuk pemotongan baja beton dengan jumlah besar lebih ekonomis bila dikerjakan dengan mesin gunting yang digerakkan dengan motor. Pemotongan baja tulangan dengan garis tengah besar tetapi dengan jumlah sedikit sering menggunakan alat pemotong gergaji besi tangan. Pemotongan baja tulangan harus sesuai dengan panjang yang telah ditentukan, kemudian batang tersebut harus dibengkokkan menurut bentuk dan ukuran pada daftar bengkok.
 
Kedua ujung baja tulangan diberi kait (bengkokan) yang bentuknya dapat bulat, serong, atau siku-siku. Bentuk kait pada tulangan balok, kolom, dan sengkang harus berbentuk bulat atau serong, sedang bentuk kait pada tulangan pelat boleh berbentuk sikusiku.
 
    2. Syarat-syarat Pembengkokan n n
 
Syarat-syarat pembengkokan baja tulangan ditentukan sebagai berikut:
        a. Batang tulangan tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengancara-cara yang merusak tulangan.
        b. Batang tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan diluruskan kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60 cm daribengkokan sebelumnya.
        c. Batang tulangan yang tertanam sebagian di dalam beton tidak boleh dibengkok atau diluruskan di lapangan, kecuali apabila ditentukan di dalam gambar rencana atau disetujui oleh perencana.
        d. Membengkok dan meluruskan batang tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin, kecuali pemanasan diijinkan oleh perencana.
        e. Batang tulangan dari baja keras tidak boleh dipanaskan,kecuali diijinkan oleh perencana.
        f. Batang tulangan yang dibengkok dengan pemanasan tidak boleh didinginkan dengan jalan disiram air.
        g. Batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuaidengan gambar kerja.
 
    3. Merangkai Baja Tulangan
 
Setelah baja tulangan selesai dibengkokkan, langkahselanjutnya adalah merangkai baja tulangan tersebut. Tulangandirangkai sesuai dengan gambar kerja, yaitu tulangan untuk sloof,kolom, ring balok, maupun plat lantai. Pada titik-titik persilanganantara batang-batang tulangan maupun antara batang tulangan dengansengkang/begel diikat dengan kawat pengikat (bendrat). Pengikatan tersebut harus kokoh agar konstruksi tulangan yang dirangkai tidak mudah berubah atau tergeser pada waktu diadakan pengecoranbeton.
 
Untuk merangkai tulangan balok atau kolom dengan dimensi yang kecil, pekerjaan merangkai biasanya dilakukan di luar acuan, sehingga pada waktu acuan sudah siap, maka hasil rangkaian langsung diletakkan di dalam acuan. Pada penulangan plat lantai dengan balok, rangkaian penulangan balok dipasang lebih dahulu,kemudian merngkai tulangan untuk plat lantai.
 
Agar baja tulangan dapat dilindungi oleh beton, maka pemasangan baja tulangan tidak boleh menempel pada acuan atau lantai kerja. Untuk itu, harus dibuat penahan jarak dari beton denganmutu sama dengan mutu beton yang akan dicor (beton tahu). Untuk merangkai tulangan pada plat dengan konstruksi tulangan rangkap, , tulangan atas harus ditunjang (disangga) oleh baja penahan dengan jarak yang sesuai dengan tebal penutup beton.
 
Gambar VIII-2, Kunci Pembengkok dan Cara Membengkok Besi
 
Gambar VIII-3, Merangkai Tulangan
 
 
C. Membuat Adukan Beton Segar
 
    1. Pengadukan Beton.
 
Pengadukan beton dapat dilakukan dengan beberapa 2 cara, yaitu; pengadukan manual dan pengadukan dengan molen.
 
Cara pengadukan beton secara manual adalah sebagai berikut;
        a. Pengadukan beton dengan tangan harus dilakukan di atas bak dengan dasar lantai dari papan kayu atau dari pasangan yang diplester. Hal tersebut dilakukan agar kotoran atau tanah tidak mudah tercampur dan air pencampur tidak meluap keluar dari campuran.
        b. Pengadukan beton dengan jumlah besar, sebaiknya dilakukan dibawah atap agar terlindung dari panas matahari dan hujan.
        c. Pengadukan beton manual biasanya menggunakan perbandingan volume. Yang lazim digunakan di lapangan adalah dengan membuat kotak takaran untuk perbandingan volume pasir, semen, dan krikil.
        d. Urutan pencampuran adukannya adalah; pasir dan semen yang sudah ditakar dicampur kering di dalam bak pengaduk, lalu krikil dituangkan dalam bak pengaduk kemudian diaduk sampai merata. Setelah adukan merata, tuangkan air sesuai kebutuhan, aduk sampai campuran merata dan sesuai dengan persyaratan.
Untuk pengadukan menggunakan molen, prinsip dasarnya sama dengan pengadukan secara manual, hanya proses pencampuran bahan adukan beton dilakukan di dalam molen yang terus menerus berputar. Hasil adukan beton dengan menggunakan molen lebih baik dan lebih merata dibandingkan dengan proses pengadukan secara manual.
 
    2. Persyaratan Pengadukan Beton
 
Pengadukan beton disyaratkan sebagai berikut;
        a. Pengadukan beton sebaiknya dilakukan dengan mesin pengaduk (molen). Mesin pengaduk harus dilengkapi dengan alat-alat yang dapat mengukur dengan tepat jumlah agregat, semen, dan air pencampur.
        b. Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton harus diawasi terus menerus dengan jalan memeriksa slump pada setiap campuran beton yang baru. Besarnya slump dijadikan petunjuk untuk menentukan jumlah air pencampur yang tepat sesuai dengan faktor air semen yang diinginkan.
        c. Waktu pengadukan bergantung pada kapasitas molen, volume adukan, jenis dan susunan butir agregat, dan nilai slump. Secara umum, waktu pengadukan minimal 1,5 menit setelah semua bahan-bahan dimasukkan ke dalam molen. Setelah selesai, adukan beton harus memperlihatkan susunan warna yang merata.
        d. Apabiia karena sesuatu hal adukan beton tidak memenuhi syarat minimal, misalnya terlalu encer karena kesalahan dalam pemberian jumlah air pencampur, mengeras sebagian, atau tercampur dengan bahan-bahan asing, maka adukan ini
tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan dari tempat pelaksanaan.
 
    3. Pengangkutan
 
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengankutan beton dari tempat penyiapan adukan ke tempat pengecoran adalah sebagai berikut;
        a. Harus dihindari adanya pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
        b. Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor.
        c. Adukan beton umumnya sudah harus dicor dalam waktu 1 jam setelah pengadukan dengan air dimulai. Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang sampai 2 jam bila adukan beton digerakkan kontinyu secara mekanis.
        d. Apabila jangka waktu pengangkutan memakan waktu yang panjang, harus dipakai bahan penghambat pengikatan.
 
Gambar VIII-4, Persiapan Pembuatan Adukan Beton
 

Facebook Comments