Rabu, 30 April 2014

Daftar Pustaka Teknik Konstruksi Gedung

Daftar Pustaka Teknik Konstruksi Gedung
 
 
Ahmad Fa’izin. 2007. Ragam Bentuk, Bahan dan Variasi. Depok: Penebar Swadaya.
Anthony Joddie P Palgunadi. 2007. Memahami Listrik Rumah Tinggal. Boyolali: Kaliptra Raya.
 
Baer, Charles J & Ottaway John R. 1980, Electrical and Electronics Drawing Fourth Edition. New York: Mc Graw-Hill Company.
Bayu Ismaya, Titut Wibisono, Nurhidayat. 2006. 81 Tips Mengatasi Kerusakan Rumah. Depok: Penebar Swadaya.
Brechmann, Gerhard. 1993. Table for the Electric Trade. Deutche Gesselchaft fiir Technische Zusammenarbeit (GTZ) Gmbh, Eschborn Federal Republic of Germany.
Budi Jasin, Mauro. 1981. Teknik Presentasi Gambar Arsitektur. Bandung.
 
Dalih S A, Oja Sutiarno. 1982. Keselamatan Kerja Dalam Tatalaksana Bengkel. Jakarta: Melton Putra.
Darsono & Agus Ponidjo (t.th). Petunjuk Praktek Listrik 2. Depdikbud Dikmenjur.
Daryanto. 1988. Pengetahuan Teknik Bangunan. Jakarta: Bina Aksara.
Daryanto. 2007. Kumpulan Gambar Teknik Bangunan. Jakarta: Rineka Cipta.
Dedy Rusmadi. 2001. Belajar Instalasi Listrik. Bandung: Pionir Jaya.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Standar Kompetesi Nasional Bidang Teknologi Perkayuan. Jakarta: Bagian Proyek Sistem Pengembangan Sertifikasi dan Standarisasi Profesi.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Standar Kompetesi Nasional Bidang Gambar Bangunan. Jakarta: Bagian Proyek Sistem Pengembangan Sertifikasi dan Standarisasi Profesi.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2003. Standar Kompetesi Nasional Bidang Survey dan Pemetaan. Jakarta: Bagian Proyek Sistem Pengembangan Sertifikasi dan Standarisasi Profesi.
Dikmenjur. 2000. Rumah Yang Ekologis. Malang: PPPGT/VEDC.
Donalde E Hepler, Paul I Wallach. 1977. Architecture Drafting and Design. New York: McGraw-Hill Book Company.
 
E. Diraatmadja. 1987. Membangun. Jakarta: Erlangga.
Edward Allen. 2005. Dasar-Dasar Konstruksi Bangunan. Jakarta: Erlangga.
 
Harten, P. Van & E. Setiawan.1991. Instalasi Listrik Arus Kuat 1. Jakarta: Binacipta.
Heinz Frick. 1975. Menggambar Bangunan Kayu. Yogyakarta: Kanisius.
Heinz Frick. 1980. Ilmu Konstruksi Bangunan 1. Yogyakarta: Kanisius.
Heinz Frick. 1984. Rumah Sederhana Kebijakan, Perencanaan dan Konstruksi. Yogyakarta: Kanisius.
Heinz Frick, Petra Widmer. 2006. Membangun, Membentuk, Menghuni. Yogyakarta: Kanisius.
Hendarsin, H. 1983. Ringkasan Ilmu Bangunan. Jakarta: Erlangga.
 
IK Supribadi. 1986. Ilmu Bangunan Gedung. Bandung: Armico.
Iman Subarkah. 1988. Konstruksi Bangunan Gedung. Bandung: Idea Dharma.
Imelda Akmal Architecture Writer. 2007. Saniter. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 
Koch, Robert. 1997. Perencanaan Instalasi Listrik. Bandung: Angkasa.
Konstruksi. 1995. Pengembangan Kota Medan. Jakarta: PT. Tend Pembangunan.
Konstruksi. 1995. Revitalisasi Kota Lama Jakarta. Jakarta: PT. Tend Pembangunan.
 
Leslie Woolley. 1974. Sanitation Details. London: Northwood Publications
 
Mistra. 2006. Panduan Membangun Rumah. Depok: Penebar Swadaya.
 
Renggo. S.W. 1997. Menghitung Biaya Membuat Rumah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rita Laksmitasari Rahayu. 2007. Sistem dan Perencanaan Plumbing. Jakarta: Prima Infosarana Media.
Robby Setiawan. 2007. Panduan Praktis Membangun Rumah Tinggal. Jakarta: Kawan Pustaka.
Rudy Gunawan. 1994. Pengantar Ilmu Bangunan. Yogyakarta: Kanisius.
 
Schaarwachter. 1996. Perspektif untuk Para Arsitek. Jakarta: Erlangga.
Singh, Surjit. 1984. General Electric Drawing. New Delhi: PK & Co Technical Publisher..
Slamet Mulyono & Djihar Pasaribu 1978. Menggambar Teknik Listrik 2. Jakarta: Depdikbud.
Soetjipto, dan Ismoyo. 1978. Konstruksi Beton Bertulang 1. Jakarta: Dikdasmen.
Soegihardjo, Soedibyo. 1977. Ilmu Bangunan Gedung 1. Jakarta: Dikdasmen.
Soegihardjo, Soedibyo. 1977. Ilmu Bangunan Gedung 2. Jakarta: Dikdasmen.
Soegihardjo, Soedibyo. 1977. Ilmu Bangunan Gedung 3. Jakarta: Dikdasmen.
Soufyan M Noerbambang, Takeo Morimura. 1986. Perancangan dan Pemeliharaan Sistem Plambing. Jakarta: Pradnya Paramita.
Supribadi. 1993. Ilmu Bangunan Gedung. Bandung: Armico.
Suratman, Sudibyo. 1982. Petunjuk Praktek Bangunan Gedung 2. Jakarta: Abadi.
Suryatmo, F. 1993. Teknik Listrik Instalasi Penerangan. Jakarta: Rineka Cipta.
 
Takeshi Sato & N. Sugiarto. 1986. Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. Jakarta: Pradnya Paramita. Jakarta.
Tim FT UNY. 2001. Memasang Daun Pintu dan Jendela. Jakarta: Dikmenjur.
_.2001. Memasang Kusen Pada Dinding Paangan. Jakarta: Dikmenjur.
TotoMedia. 2007. Grand Opening TOTO Gallery Panglima Polim. Jakarta: PT. Surya Toto Indonesia Tbk.
TotoMedia. 2007. Melewatkan Liburan di Kota Kembang. Jakarta: Surya Toto Indonesia.
 
Walker, Theodore D. 1989. Sketsa Perspektif. Jakarta: Erlangga.
Wamar. 1996. Konstruksi Batu. Bandung: Angkasa.
Widodo. 1983. Rumah Tahan Gempa (RTG) TUKU KALI (MenyaTu, Kuat, Kaku, Liat). Yogyakarta: Rumah Produksi Informatika.
 
Zamtinah. 1990. Diktat Gambar Teknik. Yogyakarta: FPTK IKIP Yogyakarta.
 
www.mciindonesia.tripod.com. Akses Tanggal 10 Oktober 2007.
www.wpkl.jkr.gw. Akses Tanggal 11 Oktober 2007.
www.karyanet.com. Akses Tanggal 11 Oktober 2007.
www.gufi.indika.net.id. Akses Tanggal 12 Oktober 2007.
www.rumah.masrafa.com. Akses Tanggal 12 Oktober 2007.
www.sarikayu.co.id . Akses Tanggal 13 Oktober 2007
www.tepaksireh.com. Akses Tanggal 15 Oktober 2007.
www.wvansantvoort.nl. Akses Tanggal 17 Oktober 2007.
www.planetmaison.com. Akses Tanggal 17 Oktober 2007.
www.procolor.fr . Akses Tanggal 17 Oktober 2007.
www.mukimits.com. Akses Tanggal 20 Oktober 2007.
www.drymix.co.id. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.indonetwork.co.id. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.rumahjogja.com. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.kompas.com. Akses Tanggal 25 Oktober 2007
www.sonjaya.com. Akses Tanggal 27 Oktober 2007
http://www.indanapaint.com/cat_genteng.htm. Akses Tanggal 27 Oktober 2007.
http://www.ideaonline.co.id. Akses Tanggal 27 Oktober 2007.
http://www.tentangKAYU.com. Akses Tanggal 27 Oktober 2007.


 

Jumat, 25 April 2014

Penutup Dinding

Penutup Dinding

 

1. Penutup Dinding dengan Batu Tempel/Hias

 

    a. Cara Pemasangan Beragam batu tempel/hias tersedia di pasar.

 
Cara pemasangan batu tempel/hias adalah sebagai berikut;
        1) Awali pemasangan dengan menetukan pola pemasangan. Pemasangan rata atau tidak rata (maju-mundur) tergantung selera. Jika ingin memasang dengan pola permukaan tidak rata, tentukan pola dan tinggi satu batu dengan batu lainnya.
        2) Pastikan ukuran batu sesuai ukuran dinding yang akan ditempeli. Jika dibutuhkan ukuran khusus, potong batu alam menggunakan alat pemotong batu atau keramik.
        3) Untuk menempelkan batu pada dinding, tuangkan semen ke bagian belakang batu. Tuang hati-hati agar cairan semen tidak mengotori bagian depan. Jika ada sisa air atau adukan semen menempel pada bagian depan, segera bersihkan.
        4) Berbeda dengan memasang lantai keramik, pemasangan batu alam tanpa nat akan lebih menarik. Jika menghendaki efek batu menyambung, hindari mengisikan adukan semen di antara celah batu.
        5) Setelah seluruh batu terpasang, tunggu satu-dua hari sampai semen kering dan batu menempel erat. Setelahnya, bersihkan dinding dengan menyemprotkan air pada dinding batu hingga debu dan kotoran hilang. Jika dibutukan, gunakan sikat kawat untuk merontokkan kotoran membandel.
 
Gambar VI-9, Penutup Dinding dengan Batu Tempel/Hias

    b. Coating atau Pengecatan Batu Tempel/Hias


Batu tempel/hias mempunyai pori-pori besar sehingga mudah menyerap air. Batu yang terkena air terus menerus bakal berlumut dan berjamur. Dua hal tersebut dapat membuat tampilan batu tak indah lagi. Untuk mengatasinya, maka batu tempel perlu dicoating/cat.

Coating hanya salah satu bentuk upaya mencegah batu tempel/hias pada dinding rumah rusak akibat dampak buruk air dan perubahan cuaca. Meski terlihat mudah, proses coating tidak boleh dilakukan sembarangan. Coating harus dilakukan secara periodic, Minimal setahun sekali. Pilihan jenis cairan coating pun harus disesuaikan dengan karakteristik batu. Tidak semuanya cocok diaplikasikan ke semua batu alam. Batu dengan poritasitas tinggi lebih cocok dicoating dengan larutan kimia yang lebih rendah. Batuan keras macam batu kali dan andesit, lebih tepat menggunakan coating yang mengkilap. Sebaliknya, batuan dengan porositas tinggi cocok dengan coating dof.
 
Gambar VI-10, Hasil Coating pada Dinding dengan Batu Tempel/Hias

 
2. Penutup Dinding dengan Keramik
 
Pelapisan dengan keramik biasnya dilakukan pada dinding kamar mandi dan dinding dapur dengan susunan keramik di bagian bawah dinding dan lis di bagian atas dinding. Model dan motif dari keramik dan lis dinding tersebut mempunyai banyak ragam.
 
Gambar VI-11, Finishing dengan Pelapisan Keramik
 
 
3. Penutup Dinding dengan Gypsum
 
 
Gambar VI-12. Sistem pelapis dinding batu ini menggunakan 1 lapis papan gipsum. Furring Channel dan Direct Fixed Clip, diaplikasikan pada 1 sisi. Rongga yang terdapat di antara papan gipsum dan dinding batu dapat difungsikan untuk instalasi ME (mekanikalelektrikal) atau insulasi (jika diperlukan).
 
Gambar VI-13. Potongan samping pelapis dinding
 
 
4. Dinding Partisi
 
Untuk membuat kesan ruangan menjadi luas atau terbagi-bagi dapat dilakukan dengan cara membuat dinding partisi.
 
Cara membuat dinding partisi adalah sebagai berikut;
    a. Tentukan model partisi yang diinginkan. Kini ada banyak variasi untuk menyamarkan ruangan. Partisi dapat menyerupai dinding utuh dengan modifikasi material atau partisi yang menyerupai lemari untuk menyimpan barang.
    b. Ukur jarak antarruang yang akan ditutupi, sebaiknya saat membagi ruang didukung oleh dinding struktur, sehingga partisi akan terlihat seperti dinding sungguhan.
    c. Pilih material sesuai kebutuhan. Lalu buat rangka struktur partisi dengan menggunakan material tersebut.
    d. Setelah partisi terbentuk, beri finishing warna yang sesuai dengan warna kusen dan pintu.
    e. Langkah terakhir, pasang pintu pada ruang yang telah ditentukan. Untuk menyamarkan pintu, handel dapat dipasang pada satu sisi, yakni bagian dalam.
    f. Jika dinding pintu partisi memiliki jarak yang cukup lebar, meja kecil dapat menjadi penghias sebagian pintu. Melalui cara ini, dinding akan terlihat seperti bukan partisi.
 
Gambar VI-14, Dinding Partisi
 


Rabu, 23 April 2014

Daftar Istilah Konstruksi Gedung

Daftar Istilah Konstruksi Gedung

 
 
aanstamping : pasangan batu kosong yang berfungsi sebagai drainage untuk mengeringkan air tanah yang terdapat di sekitar badan pondasi
aantrede (tread) : anak tangga langkah datar
aptrede(riser) : anak tangga langkah naik
angkur : penghubung kosen dengan pasangan dinding terbuat dari besi beton
apartemen : rumah tinggal sementara

balok kopel : balok beton penan momen
balok Sopi-sopi : sloof berbentuk kuda-kuda
bath mixer shower : bak penampung air dari pancuran mandi
bathtub freestanding : bak mandi tidur yang dipasang bebas
bathub : bak mandi tidur yang dipasang tertanam
beton siklop : beton yang dicampur dengan batu kali
bidet : tempat baung air kecil untuk wanita
bordes (landing) : pemberhentian sementara pada tangga
bouwplank : papan bangunan

eksterior : desain di luar bangunan
elevated water tank : penampung air yang terletak di atas
elevator/ lift : tempat penghubung antar lantai elektrik
eskalator : tangga berjalan

floor drain : lubang saluran pembuang

garis sepadan bangunan : garis batas bangunan

handle : pegangan pintu
hebel : dinding dari beton mutu tinggi

interior : desain di dalam bangunan

jet pum : pompa air tekanan tinggi

kitchen set : almari perkakas dapur

looplijn : garis jalan

neut : penguat kosen pada ambang tegak (kaki kosen)

pantry : meja dapur
paving block : penutup lantai dari campuran semen portlan dengan pasir
plumbing : peralatan dan instalasi air bersih dan air kotor

ring balok : balok beton di atas pasangan dinding

sagrod : besi bulat terbuat dari tulangan polos dengan kedua ujungnya memiliki ulir dan baut
saniter dan rioolering : saluran air bersih dan saluran air kotor
septictank : bak penampung kotoran padat
sloof : balok beton di atas pondasi
Skycraper : bangunan pencakar langit

toilet roll holder : tempat gulungan kertas tisuue
towel rail : gantungan handuk

uitzet : pengukuran pada awal pendirian bangunan
Urinoar : tempat Luang air kecil pria

veerscharnier : engsel skarnir pegas

wastafel : tempat cuci tangan
water Closet : tempat Luang air besar (jongkok/duduk)
waterpas : alat penyipat datar

zaking : penurunan setempat-setempat pada bangunan

 

Jumat, 18 April 2014

Memeriksa Bahan di Lapangan

MEMERIKSA BAHAN DI LAPANGAN

 

A. Memeriksa Material Agregat Halus dan Kasar

 
Agregat adalah butir-butiran mineral yang bila dicampur dengan semen portland akan menghasilkan beton. Dilihat dari asal bahan, agregat terdiri dari dua macam, yaitu agregat batuan alam dan agregat buatan. Untuk agregat batuan alam, berdasarkan ukurannya terbagi 2 macam, yaitu agregat halus (pasir) dan agregat kasar (krikil atau kricak/batu pecah).
 
Di dalam beton, agregat merupakan bahan pengisi yang netral dengan komposisi 70-75% dari masa beton. Tujuan penggunaan agregat di dalam adukan beton adalah;
    1. Menghemat penggunaan semen portland.
    2. Menghasilkan kekuatan besar pada beton.
    3. Mengurangi penyusutan pada pengerasan beton.
    4. Dengan gradasi agregat yang baik dapat tercapai beton padat.
    5. Sifat dapat dikerjakan (workability) dapat diperiksa pada adukan beton dengan gradasi yang baik.
 
Sifat dapat dikerjakan dari adukan beton dapat diusahakandengan mengatur gradasi dari agregat. Gradasi agregat yang baik akanmenghasilkan beton padat. Susunan beton padat akan menghasilkankekuatan besar pada beton. Agregat yang baik harus keras, kuat dan ulet. Kekuatannya melebihi kekuatan pasta semen yang telah mengeras.Agregat mengandung pori-pori tertutup tetapi tidak menambah sifat tembus air betonnya. Semakin banyak agregat di dalam beton semakin berkurang susut beton di dalam proses pengerasan.
 

    1. Agregat Halus (Pasir)

 
Pasir adalah bahan batuan halus, terdiri dari butiran dengan ukuran 0,14-5 mm, didapat dari basil desintegrasi batuan alam (natural sand) atau dengan memecah (artificial sand).
 
Sebagai bahan adukan, baik untuk spesi maupun beton, maka agregat halus harus diperiksa secara lapangan. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan agregat halus di lapangan adalah;
        a. Agregat halus terdiri dari butir-butir tajam dan keras. Butir agregat halus harus bersifat kekal, arlinya tidak pecah atau hancur olehpengaruh-pengaruh cuaca.
        b. Agregat halus tidak mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat kering). Apabila kadar lumpurmelampaui 5%, maka agregat halus harus dicuci.
        c. Agregat halus tidak boleh mengandung bahan-bahan organik terlalubanyak, hal tersebut dapat diamati dari warna agregat halus.
        d. Agregat yang berasal dari laut tidak boleh digunakan sebagai agregat halus untuk semua adukan spesi dan beton.
 

    2. Agregat Kasar (Krikil/Batu Pecah)

 
Agregat kasar dibedakan atas 2 macam, yaitu krikil (dari batuan alam) dan kricak (dari batuan alam yang dipecah). Menurut asalnya krikil dapat dibedakan atas; krikil galian, krikil sungai dan krikil pantai. Krikil galian baisanya mengandung zat-zat seperti tanah liat, debu, pasir dan zat-zat organik. Krikil sungai dan krikil pantai biasanya bebas dari zat-zat yang tercampur, permukaannya licin dan bentuknya lebih bulat. Hal ini disebabkan karena pengaruh air. Butir-butir krikil alam yang kasar akanmenjamin pengikatan adukan lebih baik. Batu pecah (kricak) adalah agregat kasar yang diperoleh dari batu alam yang dipecah, berukuran 5-70 mm.
 
Panggilingan/pemecahan biasanya dilakukan dengan mesin pemecah batu (Jaw breaker/ crusher). Menurut ukurannya, krikil/kricak dapat dibedakan atas;
        a. Ukuran butir : 5 -1 0 mm disebut krikil/kricak halus,
        b. Ukuran butir : 10-20 mm disebut krikil/kricak sedang,
        c. Ukuran butir : 20-40 mm disebut krikil/kricak kasar,
        d. Ukuran butir : 40-70 mm disebut krikil/kricak kasar sekali.
        e. Ukuran butir >70 mm digunakan untuk konstruksi beton siklop (cyclopen concreten). Pada umumnya yang dimaksud dengan agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm.
 
Sebagai bahan adukan beton, maka agregat kasar harus diperiksa secara lapangan. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam pemeriksaan agregat halus di lapangan adalah;
        a. Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori. Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai, apabila jumlah butir-butir pipih tersebut tidak melebihi 20% dari berat agregat seluruhnya. Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca.
        b. Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditentukan terhadap berat kering). Apabila kadar lumpur melampaui 1%, maka agregat kasar harus dicuci.
        c. Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapatmerusak beton, seperti zat-zat yang relatif alkali.
        d. Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari pada 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping cetakan, 1/3 dari tebal pelatatau 3/4 dari jarak bersih minimum batang-batang tulangan.
 
 
B. Memeriksa Material Semen
 
Semen portland (PC) sebagai komponen beton atau berfungsi sebagai bahan pengikat anorganik secara umum sifat utamanya adalah mengikat dengan adanya air dan mengeras secara hidrolik. Semen portland merupakan bahan bubukan halus, butirnya sekitar 0,05 mmdan pada hakekatnya terdiri dari hablur-hablur senyawa yangkornpleks. Bahan baku semen sangat tergantung pada kadar bahanasli yang terdapat di daerah tertentu.
 
Untuk konstruksi bangunan sederhana, pemeriksaan semen di lapangan sangat jarang dilakukan, karena semen portland yang beredar di pasaran sudah dinyatakan layak pakai oleh badan yang berwenang. Beberapa pemeriksaan semen di lapangan diantaranya adalah;
 
    1. Pengujian Pengikatan Awal dengan Kuku
 
Cara pengujiannya adalah sebagai berikut;
        a. 100 gram semen portland dicampur dengan air sebanyak 25-30 gram, diaduk selama 3 menit sampai menjadi adonan yang tegar. Adukan tadi kemudian di dibuat dalam bentuk kue di atas pelatkaca dengan garis tengah 10 cm dan tinggi di tengahnya 1,5 cmmenipis ke tepinya.
        b. Dengan kuku tangan atau pisau kecil dari waktu ke waktu dibuat goresan pada adonan tersebut. Bila goresan tetap ada, (tidak menutup kembali),maka dianggap bahwa ikatan mulai terjadi. Akhir ikatan dicapai bila dengan tekanan ringan sudah tidak didapatkan goresan yang dalam.
 
    2. Pengujian Kekelan Bentuk dengan Pembakaran Bola
 
Caranya pengujiannya adalah sebagai berikut;
        a. 100 grm semen portland diaduk dengan air sebanyak 20 gram. Dengan telapak tangan selama 5 menit dibuat menjadi bola.Jumlah air yang dianggap tepat bila bola tersebut agak lembabdan kalau sedikit ditekan terjadi sedikit perubahan bentuk tanpamenjadi hancur. Kelebihan air dapat dihilangkan dengan menggulirgulir bola semen tersebut di atas sehelai kertas penghisap. Bolatersebut diletakkan di atas sebuah pelat baja dan dipanasi dengan kompor pembakar. Pemanasan harus berjalan secarabertahap, sehingga dalam waktu setengah jam nyala apin mengenai pelat baja tersebut.
        b. Pengujian dihentikan bila sebuah cermin kaca diletakkan di atas bola semen tersebut tidak lagi berkabut karena embun. Kalau bolatersebut ternyata penuh dengan retak-retak dan pemuaianpemuaian, maka semen tidak memiliki kekekalan bentuk yang baik.
 


Rabu, 16 April 2014

Cara Melaksanakan Pekerjaan Pengukuran dan Papan Duga

Cara Melaksanakan Pekerjaan Pengukuran dan Papan Duga



Gambar III-9, Pekerjaan Uitzet dan Bouwplank

1. Tanamkan secara dipancang deretan patok-patok menurut kedudukan tarikan benang (garis BA) sebagai dasar pengukuran bangunan.
2. Pancangkan deretan patok-patok menurut kedudukan garis CD yang dibuat tegak lurus terhadap garis BA dengan menggunakan perbandingan dalil pythagoras (3:4:5).
3. Dengan cara yang sama, pancangkan deretan patok-pa-tok menurut garis EF dan GH.
4. Pada tiap-tiap patok beri tanda letaknya titik duga ± 0,00 dengan membuat bidang datar pada setiap patok.
5. Pasang bouwplank dengan berpedoman pada titik duga tersebut.
6. Tentukan letaknya titik-titik sumbu dinding tembok pada papan bouwplank, lalu tancapkan paku dan beri tanda dengan cat atau meni.

Jumat, 11 April 2014

Mengerjakan Beton

MENGERJAKAN BETON

 
 

A. Acuan dan Perancah

 
Acuan (cetakan) dan tiang acuan (perancah) adalah suatu konstruksi sementara, yang gunanya untuk mendukung terlaksananya pengerjaan adonan beton yang dicorkan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki. Jadi acuan dan perancah harus dapat menahan berat baja tulangan, adukan beton yang dicorkan, pekerja-pekerja pengecor beton dan lain sebagainya, sampai beton mengeras, sehingga dapat menahan berat sendiri dan beban kerja.
 
Acuan beton terdiri dari bidang bagian bawah dan samping. Papanpapan bagian bawah dari acuan yang tidak terletak langsung di atas tanah dipikul oleh gelagar acuan, sedangkan gelagar acuan didukung oleh perancah. Pada konstruksi beton yang langsung terletak di atas tanah, bagian bawah tidak perlu diberi cetakan, tetapi cukup dipasang lantai kerja dari beton dengan campuran 1 semen : 3pasir : 5 krikil dengan ketebalan 5 cm. Jadi, yang perlu diberi papan acuan bagian samping saja.
 
Untuk pekerjaan beton yang akan difinishing dengan plesteran, papan acuan tidak perlu dihaluskan, tetapi bila pekerjaan beton tidak memerlukan finishing, maka permukaan acuan harus licin. Untuk pekerjaan tersebut biasnya digunakan acuan dari multipleks, plywood, atau pelat baja.
 

    1. Bahan Acuan dan Perancah

 
Papan acuan dan tiang perancah yang digunakan biasanya dari kayu yang harganya murah dan mudah dikerjakan. Juga dapat dipergunakan pelat-pelat baja, pelat seng bergelombang, plywood dan lain sebagainya. Meskipun acuan dan perancah dibuat dari kayu yang murah, tetapi kayunya harus cukup baik dan tidak boleh terlalu basah, sebab kayu yang terlalu basah akan mudah melengkung dan pecah. Ukuran papan acuan biasanya adalah tebal 2-3 cm dan lebarnya 15-20 cm. Untuk perancah biasanya digunakan kasau 4/6 atau 5/7 cm, namun banyak juga yang menggunakan perancah dari bambu.
 
Perkembangan yang terjadi dewasa ini, banyak digunakan acuan yang telah siap rakit, papan acuan dari pelat baja, sedang perancahnya menggunakan frame scafolding.
 

    2. Persyaratan Acuan dan Perancah  
 
Syarat-syarat mengenai acuan dan perancah adalah sebagai berikut;
        a. Dapat menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai bentuk, ukuran, dan batas-batas sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar kerja.
        b. Kokoh dan cukup rapat, sehingga dapat dicegah adanya kebocoran adukan beton.
        c. Harus diberi ikatan-ikatan secukupnya, sehingga dapat terjamin kedudukan dan bentuk yang tetap.
        d. Terbuat dari bahan yang tidak mudah menyerap air dan direncanakan sedemikian rupa, sehingga mudah dibongkar tanpa menyebabkan kerusakan beton.
        e. Bersih dari kotoran serbuk gergaji, potongan kawat pengikat dan kotoran lainnya.
        f. Apabila acuan dan perancah harus memikul beban yang besar dan/atau dengan bentang yang besar atau memerlukan bentuk khusus, maka harus dilakukan perhitungan dan gambar kerja khusus.
 

    3. Perencanaan Acuan

 
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan/membuat acuan dan perancah adalah;
        a. Kecepatan dan cara pengecoran beton.
        b. Beban yang harus dipikul, termasuk beban, horisontal dan beban kejut.
        c. Selain kekuatan dan kekakuan acuan, kestabilitas juga perlu diperhitungkan dengan baik.
        d. Tiang-tiang acuan dari kayu harus dipasang di atas papan kayu yang kokoh dan mudah distel dengan baji. Tiang-tiang acuan tersebut tidak boleh mempunyai lebih dari satu sambungan yang tidak disokong ke arah samping. Bambu sebaiknya tidak digunakan sebagai tiang acuan.
 
Gambar VIII-1, Acuan dan Perancah
 
 
B. Memasang Tulangan/Pembesian
 
    1. Pemotongan dan Pembengkokan.
 
Pemotongan baja beton dengan garis tengah kecil biasanya digunakan gunting baja beton dengan tangan,sedangkan untuk garis tengah lebih besar digunakan mesin gunting yang digerakkan dengan tangan. Untuk pemotongan baja beton dengan jumlah besar lebih ekonomis bila dikerjakan dengan mesin gunting yang digerakkan dengan motor. Pemotongan baja tulangan dengan garis tengah besar tetapi dengan jumlah sedikit sering menggunakan alat pemotong gergaji besi tangan. Pemotongan baja tulangan harus sesuai dengan panjang yang telah ditentukan, kemudian batang tersebut harus dibengkokkan menurut bentuk dan ukuran pada daftar bengkok.
 
Kedua ujung baja tulangan diberi kait (bengkokan) yang bentuknya dapat bulat, serong, atau siku-siku. Bentuk kait pada tulangan balok, kolom, dan sengkang harus berbentuk bulat atau serong, sedang bentuk kait pada tulangan pelat boleh berbentuk sikusiku.
 
    2. Syarat-syarat Pembengkokan n n
 
Syarat-syarat pembengkokan baja tulangan ditentukan sebagai berikut:
        a. Batang tulangan tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengancara-cara yang merusak tulangan.
        b. Batang tulangan yang diprofilkan, setelah dibengkok dan diluruskan kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60 cm daribengkokan sebelumnya.
        c. Batang tulangan yang tertanam sebagian di dalam beton tidak boleh dibengkok atau diluruskan di lapangan, kecuali apabila ditentukan di dalam gambar rencana atau disetujui oleh perencana.
        d. Membengkok dan meluruskan batang tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin, kecuali pemanasan diijinkan oleh perencana.
        e. Batang tulangan dari baja keras tidak boleh dipanaskan,kecuali diijinkan oleh perencana.
        f. Batang tulangan yang dibengkok dengan pemanasan tidak boleh didinginkan dengan jalan disiram air.
        g. Batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuaidengan gambar kerja.
 
    3. Merangkai Baja Tulangan
 
Setelah baja tulangan selesai dibengkokkan, langkahselanjutnya adalah merangkai baja tulangan tersebut. Tulangandirangkai sesuai dengan gambar kerja, yaitu tulangan untuk sloof,kolom, ring balok, maupun plat lantai. Pada titik-titik persilanganantara batang-batang tulangan maupun antara batang tulangan dengansengkang/begel diikat dengan kawat pengikat (bendrat). Pengikatan tersebut harus kokoh agar konstruksi tulangan yang dirangkai tidak mudah berubah atau tergeser pada waktu diadakan pengecoranbeton.
 
Untuk merangkai tulangan balok atau kolom dengan dimensi yang kecil, pekerjaan merangkai biasanya dilakukan di luar acuan, sehingga pada waktu acuan sudah siap, maka hasil rangkaian langsung diletakkan di dalam acuan. Pada penulangan plat lantai dengan balok, rangkaian penulangan balok dipasang lebih dahulu,kemudian merngkai tulangan untuk plat lantai.
 
Agar baja tulangan dapat dilindungi oleh beton, maka pemasangan baja tulangan tidak boleh menempel pada acuan atau lantai kerja. Untuk itu, harus dibuat penahan jarak dari beton denganmutu sama dengan mutu beton yang akan dicor (beton tahu). Untuk merangkai tulangan pada plat dengan konstruksi tulangan rangkap, , tulangan atas harus ditunjang (disangga) oleh baja penahan dengan jarak yang sesuai dengan tebal penutup beton.
 
Gambar VIII-2, Kunci Pembengkok dan Cara Membengkok Besi
 
Gambar VIII-3, Merangkai Tulangan
 
 
C. Membuat Adukan Beton Segar
 
    1. Pengadukan Beton.
 
Pengadukan beton dapat dilakukan dengan beberapa 2 cara, yaitu; pengadukan manual dan pengadukan dengan molen.
 
Cara pengadukan beton secara manual adalah sebagai berikut;
        a. Pengadukan beton dengan tangan harus dilakukan di atas bak dengan dasar lantai dari papan kayu atau dari pasangan yang diplester. Hal tersebut dilakukan agar kotoran atau tanah tidak mudah tercampur dan air pencampur tidak meluap keluar dari campuran.
        b. Pengadukan beton dengan jumlah besar, sebaiknya dilakukan dibawah atap agar terlindung dari panas matahari dan hujan.
        c. Pengadukan beton manual biasanya menggunakan perbandingan volume. Yang lazim digunakan di lapangan adalah dengan membuat kotak takaran untuk perbandingan volume pasir, semen, dan krikil.
        d. Urutan pencampuran adukannya adalah; pasir dan semen yang sudah ditakar dicampur kering di dalam bak pengaduk, lalu krikil dituangkan dalam bak pengaduk kemudian diaduk sampai merata. Setelah adukan merata, tuangkan air sesuai kebutuhan, aduk sampai campuran merata dan sesuai dengan persyaratan.
Untuk pengadukan menggunakan molen, prinsip dasarnya sama dengan pengadukan secara manual, hanya proses pencampuran bahan adukan beton dilakukan di dalam molen yang terus menerus berputar. Hasil adukan beton dengan menggunakan molen lebih baik dan lebih merata dibandingkan dengan proses pengadukan secara manual.
 
    2. Persyaratan Pengadukan Beton
 
Pengadukan beton disyaratkan sebagai berikut;
        a. Pengadukan beton sebaiknya dilakukan dengan mesin pengaduk (molen). Mesin pengaduk harus dilengkapi dengan alat-alat yang dapat mengukur dengan tepat jumlah agregat, semen, dan air pencampur.
        b. Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan beton harus diawasi terus menerus dengan jalan memeriksa slump pada setiap campuran beton yang baru. Besarnya slump dijadikan petunjuk untuk menentukan jumlah air pencampur yang tepat sesuai dengan faktor air semen yang diinginkan.
        c. Waktu pengadukan bergantung pada kapasitas molen, volume adukan, jenis dan susunan butir agregat, dan nilai slump. Secara umum, waktu pengadukan minimal 1,5 menit setelah semua bahan-bahan dimasukkan ke dalam molen. Setelah selesai, adukan beton harus memperlihatkan susunan warna yang merata.
        d. Apabiia karena sesuatu hal adukan beton tidak memenuhi syarat minimal, misalnya terlalu encer karena kesalahan dalam pemberian jumlah air pencampur, mengeras sebagian, atau tercampur dengan bahan-bahan asing, maka adukan ini
tidak boleh dipakai dan harus disingkirkan dari tempat pelaksanaan.
 
    3. Pengangkutan
 
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengankutan beton dari tempat penyiapan adukan ke tempat pengecoran adalah sebagai berikut;
        a. Harus dihindari adanya pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
        b. Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor.
        c. Adukan beton umumnya sudah harus dicor dalam waktu 1 jam setelah pengadukan dengan air dimulai. Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang sampai 2 jam bila adukan beton digerakkan kontinyu secara mekanis.
        d. Apabila jangka waktu pengangkutan memakan waktu yang panjang, harus dipakai bahan penghambat pengikatan.
 
Gambar VIII-4, Persiapan Pembuatan Adukan Beton
 

Rabu, 09 April 2014

Memasang Papan Duga Pekerjaan Pasangan Batu

Memasang Papan Duga Pekerjaan Pasangan Batu



Papan duga pekerjaan pasangan batu (Bouwplank) adalah sebuah benda kerja yang terdiri dari pasangan papan-papan. Pasangan ini dimaksudkan untuk menempatkan titik-titik hasil pengukuran yang diperlukan dalam mendirikan suatu bangunan dan membentuk bidang datar.

Agar menghasilkan bentuk bangunan sesuai dengan perencanaan, pemasangan papan duga harus memenuhi persyaratan:
- Kedudukannya harus kuat dan tidak mudah goyah.
- Berjarak cukup dari rencana galian.
- Titik hasil uitzet ditempatkan dengan tanda yang jelas.
- Sisi atas bouwplank harus terletak satu bidang (horizontal) dengan papan bangunan (bouwplank) yang lain.
- Letak kedudukan papan bangunan harus seragam (diusahakan menghadap ke dalam bangunan).
- Untuk bangunan besar dan banyak terdapat ruang, pemasangan bouwplank dilaksanakan mengelilingi seluruh area calon bangunan didirikan, sedang untuk bangunan kecil, pemasangannya cukup pada lokasi sudut atau pertemuan bangunan.

Gambar III-4, Pemasangan Bouwplank di Sekeliling Bangunan

Gambar III-5, Pemasangan Bouwplank di Sudut/Pertemuan Dinding

Titik-titik pada papan bangunan yang menunjukkan dinding tembok dapat dijelaskan dengan tanda dari paku yang juga berfungsi untuk menarik benang sebagai sumbu tembok. Untuk menghindarkan kesalahan yang disebabkan letaknya paku, pada kedudukan paku diberi tanda panah dengan cat/meni. Bidang atas bouwplank harus diketam rata agar bidang atas papan dapat membentuk bidang datar (bidang waterpas). Bidang atas papan bangunan biasanya dipasang pada kedudukan ± 0,00 sebagai duga lantai. Sudut pertemuan papan bouwplank harus benar-benar siku, karena hal tersebut sebagai acuan untuk kesikuan pertemuan dinding.

Gambar III-6. Pemberian Tanda pada Bowplank


Sambungan papan bouwplak diusahakan terletak pada sumbu patok, sehingga jarak patok harus memperhitungkan terhadap panjang papan yang akan dipergunakan sebagai bouwplank. Bila sambungan papan bouwplank terletak di antara patok, maka sambungan papan harus harus menggunakan klem.

Gambar III-7. Sambungan Papan pada Patok

Gambar III-8, Sambungan Papan diantara Patok

Rabu, 02 April 2014

Melakukan Pekerjaan Pengukuran dan Leveling Lapangan

Melakukan Pekerjaan Pengukuran dan Leveling Lapangan



Pekerjaan pengukuran dan leveling lapangan (Uitzet) merupakan jenis pekerjaan yang digunakan untuk mewujudkan denah bentuk bangunan menjadi suatu bangunan pada tanah lokasi yang telah disediakan. Pekerjaan tersebut berupa pengukuran di lokasi bangunan sesuai dengan gambar rencana bangunan. Hasil dari pengukuran tersebut berupa garis-garis lurus yang menunjukkan sumbu dinding tembok bangunan yang diperoleh dengan menghubungakan titik-titik hasil pengukuran.

Pekerjaan pengukuran dan leveling merupakan pekerjaan yang sangat penting karena hasil dari pekerjaan ini dapat mempengaruhi dan menentukan baik buruknya ukuran dan bentuk bangunan. Jenis pekerjaan ini harus dilaksanakan dengan penuh ketelitian, setiap langkah pekerjaan harus dilakukan pengontrolan kembali.


1. Membuat Bidang Datar

Untuk membaut bidang datar ("waterpas") pada pekerjaan pengukuran dan leveling lapangan yang berukuran besar dan luas dapat digunakan pesawat waterpassen, sedang untuk bangunan yang berukuran kecil seperti rumah tinggal, cukup menggunakan alat bantu sederhana berupa selang plastik yang diisi dengan air hingga dua permukaan air dalam selang plastik membentuk bidang datar.

Gambar III-1, Membuat Bidang Waterpass dengan Selang Plastik

Untuk bangunan yang berukuran kecil, alat penyipat datar sederhana berupa selang plastik yang diisi air hasilnya cukup akurat, namun untuk bangunan yang berukuran besar, alat bantu tersebut kurang akurat hasilnya. Hal tersebut disebabkan ukuran panjang selang plastik yang terbatas, sehingga dapat mengakibatkan hasil dari pelaksanaan pengukuran kurang akurat.


2. Membuat Garis Siku-siku

Untuk membuat garis siku-siku di lapangan banyak dilakukan dengan memanfaatkan dalil pythagoras, yaitu perbandingan sisi miring (BC) dengan sisi datar (AC) dan sisi tegak (AB) dengan angka perbandingan AC : AB : BC = 3 : 4 : 5.

Gambar III-2, Membuat Garis Siku-siku

Untuk mengontrol hasil pekerjaan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menarik garis dari titik B sejajar dengan AC (BD),
b. Menarik garis dari titik C sejajar dengan AB (CD),
c. Perpotongan dua buah garis BD dengan CD berpotongan di titik D, dan akan membentuk bidang segi empat,
d. Jarak diagonal BC harus sama panjang dengan AD,
e. Bila jarak diagonal antara BC dengan AD belum sama panjang, maka garis yang menghubungkan titik CAB belum membentuk siku-siku, dan pekerjaan pengukuran harus diulangi sampai jarak diagonal BC dengan AD sama panjang.

Gambar III-3, Kontrol Garis Siku-siku

Menyiapkan Lokasi dan Material Pasangan Batu

Menyiapkan Lokasi dan Material Pasangan Batu



1. Lokasi

Hal-hal yang perlu disiapkan di lokasi pekerjaan pasangan batu adalah;
 
    a. Di dalam pekerjaan membersihkan lokasi kerja dari sampah yang akan menghambat jalannya pekerjaan selalu dilakukan pada awal pekerjaan. Pekerjaan ini tidak terlalu memerlukan tenaga yang besar kecuali pekerjaannya memang besar yang akan dibahas secara tersendiri karena menyangkut penggunaan alat berat seperti buldozer, back hoe dan lain-lain.
 
    b. Memindahkan benda yang akan menghambat proses pekerjaan. Pekerjaan memindahkan sering dilakukan menyesuaikan dengan kondisi lapangan. Kalau kondisi lapangan pekerjaan lahan baru, biasanya ada pohon yang perlu ditebang. Kondisi lapangan bangunan lama juga perlu pembongkaran dan pengamanan alat dan bahan yang masih terpakai, barang tersebut diinventaris dan diletakkan pada ruangan yang aman.
 
    c. Membuat penerangan dan sarana kebersihan seperti lampu dan tersedianya air. Untuk sarana kebersihan disediakan tempat tersendiri sesuai dengan macam sampah yang dibuang. Pemasangan lampu bisa menyesuaikan dengan kondisi lapangan, andaikan dekat dengan rumah tinggal, bisa langsung menyambung dengan rumah terdekat. Bila jauh bisa menghubungi PLN dan bila tidak maka bisa menggunakan tenaga disel atau lainnya. Kebutuhan air biasanya dengan cara pemboran/membuat sumur atau memasang ledeng.


2. Material

Material yang perlu disiapkan dalam pasangan batu meliputi peralatan dan bahan. Peralatan dan bahan-bahan yang diperlukan dalam pasangan batu perlu dipersiapkan dekat dengan tempat dimana pekerjaan akan dilaksanakan. Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah dalam pelaksanaan pekerjaan. Material yang sangat penting dipersiapkan di dekat lokasi kerja biasanya adalah:
    a. Batu pecah/kali
    b. Peralatan pengukuran (water pass/selang plastik, patok dan papan, meteran)
    c. Peralatan kerja (sendok spesi, cangkul, palu)
    d. Bahan adukan (pasir dan semen), dan
    e. Tempat membuat adukan/spesi

Memasang Pondasi Batu Belah

Memasang Pondasi Batu Belah

 
 
Pondasi merupakan elemen pokok bangunan yang sangat vital, berfungsi sebagai penyangga konstruksi bangunan di atasnya. Kekuatan dan kekokohan suatu konstruksi bangunan gedung sangat tergantung dari konstruksi pondasi.

Konstruksi pondasi suatu bangunan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Bentuk dan konstruksinya harus menunjukkan suatu konstruksi yang kokoh dan kuat untuk mendukung beban bangunan di atasnya.
2. Pondasi harus dibuat dari bahan yang tahan lama dan tidak mudah hancur, sehingga kerusakan pondasi tidak mendahului kerusakan bagian bangunan di atasnya.
3. Tidak boleh mudah terpengaruh oleh keadaan di luar pondasi, seperti keadaan air tanah dan lain-lain.
4. Pondasi harus terletak di atas tanah dasar yang cukup keras sehingga kedudukan pondasi tidak mudah bergerak (berubah), baik bergerak ke samping, ke bawah (turun) atau terguling.

Gambar IV-1, Pondasi Menciptakan Kestabilan dan Kekokohan
 
Menurut jenisnya, pondasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu pondasi langsung dan pondasi tak langsung. Pondasi langsung adalah pondasi yang dibuat bila kedalaman lapisan tanah keras maksimal 1 meter, sedangkan pondasi tak langsung adalah pondasi yang dibuat bila kedalaman lapisan tanah keras melebihi 1 meter.
 
1. Pondasi Langsung

Konstruksi dari pondasi langsung dapat berupa pondasi batu belah/kali, pondasi batu bata, pondasi beton bertulang, pondasi pias, pondasi plat kaki, dan pondasi balok sloof. Lebar dasar pondasi dibuat lebih besar dari tebal dinding tembok di atasnya, hal tersebut dimaksudkan untuk memperkecil beban persatuan luas pada tanah dasar, karena daya dukung tanah dasar pondasi pada umumnya lebih kecil dari daya dukung pasangan badan pondasi. Untuk pondasi langsung yang menggunakan bahan batu kali, batu bata dan beton tumbuk, tampang badan pondasi membentuk bangun trapesium, hal tersebut dilakukan selain berguna bagi kestabilan kedudukan pondasi juga untuk efisiensi.

2. Pondasi Tak Langsung
 
Konstruksi pondasi tak langsung digunakan bila lapisan tanah yang baik/keras terdapat cukup dalam dari permukaan tanah. Prinsip dasar dari konstruksi pondasi tak langsung adalah dengan perantaraan konstruksi pondasi tak langsung tersebut beban bangunan dipindahkan ke lapisan tanah dasar pondasi yang baik. Pada tanah bangunan di mana lapisan tanah mudah pecah akibat pengaruh panas sinar matahari dan air sampai cukup dalam dan dan lapisan tanah yang mempunyai daya dukung besar cukup dalam, bila konstruksi pondasi langsung dikhawatirkan menyulitkan pelaksanaan pekerjaan dan tidak efisien. Terdapat bermacam-macam jenis konstruksi pondasi tak langsung, diantaranya pondasi umpak, gabungan pondasi plat kaki dan umpak, pondasi sumuran, pondasi tiang straus, dan pondasi tiang pancang.
 
Bahasan selanjutnya difokuskan pada konstruksi pondasi langsung berupa pondasi batu belah. Hal tersebut dilakukan mengingat konstruksi pondasi langsung dengan bahan batu belah amat dominan digunakan di lapangan.
 
3. Memasang Pondasi Batu Belah
 
Batu belahi merupakan bahan konstruksi pondasi yang paling banyak digunakan, karena batu belah yang umumnya didapatkan dari batu kali tidak mengalami perubahan bentuk dan kualitas bila tertanam di dalam tanah.
 
Persyaratan batu belah sebagai bahan konstruksi pondasi adalah batu tersebut mempunyai permukaan yang kasar, berukuran ± 25 cm, bersih dari segala kotoran. Batu belah yang permukaannya halus kurang baik dipakai sebagai bahan pondasi, sehingga harus dipecah terlebih dahulu agar didapatkatkan permukaan yang kasar. Demikian juga dengan batu belah yang berpori sebaiknya tidak digunakan untuk bahan konstruksi pondasi. Permukaan batu yang kasar akan membuat ikatan yang kokoh.
 
Pada umumnya tampang lintang dari badan pondasi batu belah berbentuk trapesium dengan lebar sisi bagian atas paling sedikit 25 cm, sehingga didapatkan susunan batu yang kokoh. Sebelum dipasang, batu belah harus disiram air terlebih dahulu. Bila tanah dasar pondasi banyak mengandung air, maka sebelum pondasi dipasang harus disusun terlebih dahulu pasangan batu kosong yang diisi pasir pada rongga-rongganya.
 
Gambar IV-2, Batu Kali Sebagai Bahan Konstruksi Pondasi Batu Belah
 
Bentuk konstruksi pondasi belah antara lain adalah seperti gambar berikut.
 
Gambar IV-3, Konstruksi Pondasi Batu Kali
 
Bila kondisi lapisan tanah banyak mengandung air, maka sebelum badan pondasi dipasang terlebih dahulu disusun pasangan batu kosong yang diisi pasir pada rongga-rongganya. Susunan batu kosong tersebut dinamakan aanstamping, yang berfungsi sebagai drainase untuk mengeringkan air tanah yang terdapat di sekitar badan pondasi.
 
Gambar IV-4, Susunan Pasangan Batu Kosong (aanstampang)
 
Gambar IV-5, Aplikasi Pondasi Batu Kali di Lapangan
 
 
Istilah terkait pondasi batu belah : gedung dan konstruksi, konstruksi bangunan, konstruksi bangunan gedung, konstruksi gedung bertingkat, metode konstruksi, metode konstruksi gedung, pembangunan gedung
 

Facebook Comments